<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Luppatjeh's Weblog</title>
	<atom:link href="http://luppatjeh.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://luppatjeh.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 19 Sep 2008 13:25:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='luppatjeh.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Luppatjeh's Weblog</title>
		<link>http://luppatjeh.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://luppatjeh.wordpress.com/osd.xml" title="Luppatjeh&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://luppatjeh.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>CUT NYAK DHIEN</title>
		<link>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/cut-nyak-dhien/</link>
		<comments>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/cut-nyak-dhien/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 13:25:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luppatjeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[aLL about atjeh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luppatjeh.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Cut Nyak Dhien; Sebuah Akhir di Tanah Sepi Januari 28, 2008 · 6 Tanggapan Tanggal 11 Desember 1906, Pangeran Aria Suriaatmaja, Bupati Sumedang waktu itu, kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan dari pemerintah Hindia Belanda. Seorang perempuan tua, renta, rabun serta menderita encok. Seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih berumur 50 tahun dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=30&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="post-186" class="post hentry category-nanggroe category-tokoh category-uncategorized">
<h2>Cut Nyak Dhien; Sebuah Akhir di Tanah Sepi</h2>
<h4>Januari 28, 2008<!-- by salamatahari --> · <a href="http://salamatahari.wordpress.com/2008/01/28/186/#comments">6 Tanggapan</a></h4>
<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p><a title="tjoet njak dien-" href="http://salamatahari.files.wordpress.com/2008/01/tjoet_njak_dien-_the_queen_of_jihad.gif"><img src="http://salamatahari.files.wordpress.com/2008/01/tjoet_njak_dien-_the_queen_of_jihad.thumbnail.gif?w=156&#038;h=117&#038;h=117" border="2" alt="tjoet_njak_dien-_the_queen_of_jihad.gif" hspace="1" vspace="1" width="156" height="117" align="right" /></a>Tanggal 11 Desember 1906, Pangeran Aria Suriaatmaja, Bupati Sumedang waktu itu, kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan dari pemerintah Hindia Belanda. Seorang perempuan tua, renta, rabun serta menderita encok. Seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih berumur 50 tahun dan remaja tanggung berusia 15 tahun. Walau tampak lelah mereka bertiga tetap kelihatan tabah. Pakaian lusuh yang dikenakan perempuan itu merupakan satu-satunya pakaian yang ia punya selain sebuah tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat.</p>
<p>Belakangan karena melihat perempuan tua itu sangat taat beragama, Pangeran Aria Suriaatmaja tidak menempatkannya di penjara. Melainkan memilih menempatkannya disalah satu rumah milik tokoh agama setempat. Kepada Pangeran Suriaatmaja, Belanda tak mengungkap siapa perempuan tua renta dan menderita encok itu. Bahkan sampai kematiannya, 08 November 1906 masyarakat Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan tua itu.</p>
<p><a title="tawanan-perang.jpg" href="http://salamatahari.files.wordpress.com/2008/01/tawanan-perang.jpg"><img src="http://salamatahari.files.wordpress.com/2008/01/tawanan-perang.thumbnail.jpg?w=204&#038;h=179&#038;h=179" border="1" alt="tawanan-perang.jpg" width="204" height="179" align="left" /></a>Perjalanan sangat panjang telah ditempuh perempuan tua itu sebelum akhirnya beristirahat dengan damai dan dimakamkan di Gunung Puyuh tak jauh dari pusat kota Sumedang. Yang mereka tahu, karena kesehatannya yang sangat buruk, perempuan tua nyaris tak pernah keluar rumah. Kegiatannyapun terbatas hanya berdzikir atau mengajari mengaji ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang berkunjung.</p>
<p>Sesekali mereka membawakannya pakaian atau sekadar makanan pada perempuan tua yang santun itu yang belakangan karena penguasaanya terhadap ilmu-ilmu agama disebut dengan Ibu Perbu. Waktu itu tak ada yang menyangka bila perempuan tua yang mereka panggil Ibu Perbu itu adalah <em>The Queen of Aceh Batlle </em>dari Perang Aceh (1873-1904) bernama Tjoet Nyak Dhien. Ya, hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang dihiasi oleh kesenyapan dan sepi. Jauh dari tanah air dan orang-orang yang dicintai.</p>
<p>Gadis kecil cantik dan cerdas bernama Cut Nyak Dhien. Dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Lampadang tahun 1848. Ayahnya adalah Uleebalang bernama Teeku Nanta Setia yang merupakan keturunan perantau Minang yang datang dari Sumatera Barat ke Aceh sekitar abad 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.</p>
<p>Tumbuh dalam lingkungan yang memegang tradisi beragama yang ketat ketat membuat gadis kecil Cut Nyak Dhien menjadi gadis yang cerdas. Pada usianya yang ke 12 dia kemudian dinikahkan oleh orangtuanya dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga yang merupakan anak dari Uleebalang Lamnga XIII. Dari perkawinannya itu belakang dia dikarunia seorang anak laki-laki.</p>
<p>Suasana perang yang bergelanyut diatmosfir Aceh pecah ketika 1 April 1873, F.N. Nieuwenhuyzen memaklumatkan perang terhadap kesultanan Aceh. Sejak saat itu gelombang demi gelombang penyerbuan Belanda ke Aceh selalu berhasil dipukul kembali oleh laskar Aceh. Dan Tjoet Nyak Dhien tentu ada disana, ditengah tebasan rencong, pekik perang dan dentuman meriam.</p>
<p>Dia juga yang berteriak membakar semangat rakyat Aceh ketika Masjid Raya jatuh dan di bakar tentara Belanda.</p>
<blockquote><p><span style="color:#ff0000;"><em>“Lihatlah wahai orang-orang Aceh!! Tempat ibadat kita dirusak!! Mereka telah mencorengkan nama Allah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda?” </em></span></p></blockquote>
<p>Perang Aceh adalah cerita tentang keberanian, pengorbanan dan kecintaan terhadap tanah lahir, begitu juga Tjoet Nyak Dhien. Bersama ayah dan suaminya, setiap harinya waktu dihabiskan untuk berperang, berperang dan berperang melawan <em>Kapke Ulanda.</em>Tetapi perang juga lah yang mengambil satu-persatu orang yang dicintainya, ayahnya lalu suaminya menyusul gugur dalam pertempuran di Gle Tarum 29 Juni 1070. Dua tahun kemudian, Tjoet Nyak Dhien menerima pinangan Teuku Umar dengan pertimbangan strategi perang. Belakangan Teuku Umar juga gugur dalam serbuan mendadak yang dilakukan Belanda di Meulaboh, 11 Februari 1899.</p>
<p>Tetapi bagi Tjoet, perang melawan Belanda bukan hanya milik Teuku Umar, Teuku Cek Ibrahim Lamnga suaminya bukan juga monopoli Teeku Nanta Setia ayahnya atau para lelaki Aceh saja. Perang Aceh adalah milik semesta rakyat. Setidaknya itulah yang ditunjukan Tjoet Nyak Dhien, dia tetap mengorganisir serangan-serangan terhadap Belanda.</p>
<p>Bertahun-tahun kemudian, segala energi dan pemikiaran putri bangsawan itu hanya dicurahkan pada perang. Berpindah dari satu persembunyian ke persembunyian yang lain, kurang makan dan kurangnya rawatan kesehatan membuat kebugarannya merosot. Kondisi pasukannyapun tak jauh berbeda. Pasukan itu bertambah lemah hingga ketika pada pada 16 November 1905 sepasukan Belanda menyerbu ke tempat persembunyiannya, Tjoet Nyak Dhien dan pasukan kecilnya kalah telak.</p>
<p>Dengan usia yang telah menua, rabun dan sakit-sakitan Tjoet memang tak bisa berbuat banyak. Rencongpun nyaris tak berguna untuk membela diri. Ya, Tjoet tertangkap dan dibawa ke Banda Aceh lalu dibuang Sumedang, Jawa Barat.</p></div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luppatjeh.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luppatjeh.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luppatjeh.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luppatjeh.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luppatjeh.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luppatjeh.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luppatjeh.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luppatjeh.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luppatjeh.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luppatjeh.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luppatjeh.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luppatjeh.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luppatjeh.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luppatjeh.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=30&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/cut-nyak-dhien/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3214394c5c0fcdb464010a2f84fab8b0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luppatjeh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://salamatahari.files.wordpress.com/2008/01/tjoet_njak_dien-_the_queen_of_jihad.thumbnail.gif?w=156&#38;h=117" medium="image">
			<media:title type="html">tjoet_njak_dien-_the_queen_of_jihad.gif</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://salamatahari.files.wordpress.com/2008/01/tawanan-perang.thumbnail.jpg?w=204&#38;h=179" medium="image">
			<media:title type="html">tawanan-perang.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seluk Beluk Tari saman Aceh</title>
		<link>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/seluk-beluk-tari-saman-aceh/</link>
		<comments>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/seluk-beluk-tari-saman-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 13:24:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luppatjeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[aLL about atjeh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luppatjeh.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Bagi para penikmat seni tari, Saman menjadi salah satu primadona dalam pertunjukan. Dalam setiap penampilannya, selain menyedot perhatian yang besar juga menyedot para penikmat seni tari. Tarian Saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik, karena hanya menampilkan gerak tepuk tangan dan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak badan, kepala dan posisi badan. Keunikan lainnya terlihat dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=28&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Bagi para penikmat seni tari, Saman menjadi salah satu primadona dalam pertunjukan. Dalam setiap penampilannya, selain menyedot perhatian yang besar juga menyedot para penikmat seni tari. Tarian Saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik, karena hanya menampilkan gerak tepuk tangan dan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak badan, kepala dan posisi badan. Keunikan lainnya terlihat dari posisi duduk para penari dan goyangan badan yang dihentakkan ke kiri atau ke kanan, ketika syair-syair dilagukan.</p>
<p align="justify">Tari ini biasanya dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki, tetapi jumlahnya harus ganjil. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, tarian ini dimainkan pula oleh kaum perempuan atau campuran antara laki-laki dan perempuan. Dan tentunya dengan modifikasi gerak lainnya. Saya kadang bertanya bagaimana orang sebanyak itu bisa dengan serentak memainkan tarian yang memiliki kecepatan tinggi? Selain latihan tentunya, pasti ada formasi tertentu dalam meletakkan tiap-tiap penari itu sehingga kerapatan dan keseimbangan tarian terlihat harmonis dan dinamis.</p>
<p align="justify">Hampir semua tarian Aceh dilakukan beramai-ramai. Ini memerlukan kerjasama dan saling percaya antara syeikh (pemimpin dalam tarian) dengan para penarinya. Namun apa saja unsur yang membuat tarian ini menjadi begitu indah dalam gerak, irama dan kekompakan tidak banyak kita mengetahuinya.</p>
<p align="justify">Sekarang mari kita mulai mengupas unsur pendukung dalam tari saman ini. Mungkin saat kita mengetahui segala aspek yang terdapat dalam tarian ini, kita dapat lebih memahami. Dan mendapatkan tidak hanya keindahan namun juga makna filosofi dari posisi, gerak, syair yang terlantun saat pertunjukan Saman di gelar.</p>
<p align="justify">Dalam penampilan yang biasa saja (bukan pertandingan) dimana adanya keterbatasan waktu, Saman bisa saja dimainkan oleh 10 &#8211; 12 penari, akan tetapi keutuhan Saman setidaknya didukung 15 &#8211; 17 penari. Yang mempunyai fungsi sebagai berikut :</p>
<p align="justify"><strong><span style="color:#ffff99;">1 </span><span style="color:#ffffff;">2 3 4 5 6 7</span> <span style="color:#3366ff;">8</span><span style="color:#ff0000;"> 9 </span><span style="color:#3366ff;">10 </span><span style="color:#ccffcc;">1</span><span style="color:#ffffff;">1 12 13 14 15 16</span> <span style="color:#ffff99;">17</span></strong></p>
<div>
<ul class="unIndentedList">
<li>Nomor <strong><span style="color:#ff0000;">9</span></strong> disebut <strong>Pengangkat</strong><br />
Pengangkat adalah tokoh utama (sejenis syekh dalam seudati) titik sentral dalam Saman, yang menentukan gerak tari, level tari, syair-syair yang dikumandangkan maupun syair-syair sebagai balasan terhadap serangan lawan main (Saman Jalu / pertandingan)</li>
<li>Nomor <strong><span style="color:#3366ff;">8</span></strong> dan <strong><span style="color:#3366ff;">10</span></strong> disebut <strong>Pengapit</strong><br />
Pengapit adalah tokoh pembantu pengangkat baik gerak tari maupun nyanyian/ vokal</li>
<li>Nomor <span style="color:#ffffff;"><strong>2-7</strong></span> dan <span style="color:#ffffff;"><strong>11-16</strong></span> disebut <strong>Penyepit</strong><br />
Penyepit adalah penari biasa yang mendukung tari atau gerak tari yang diarahkan pengangkat. Selain sebagai penari juga berperan menyepit (menghimpit). Sehingga kerapatan antara penari terjaga, sehingga penari menyatu tanpa antara dalam posisi banjar/ bershaf (horizontal) untuk keutuhan dan keserempakan gerak.</li>
<li>Nomor<strong> <span style="color:#ffff99;">1 </span></strong>dan <span style="color:#ffff99;"><strong>17</strong> </span>disebut <strong>Penupang</strong><br />
Penupang adalah penari yang paling ujung kanan-kiri dari barisan penari yang duduk berbanjar. Penupang selain berperan sebagai bagian dari pendukung tari juga berperan menupang/ menahan keutuhan posisi tari agar tetap rapat dan lurus. Sehingga penupang disebut <em>penamat kerpe jejerun</em> (pemegang rumput jejerun). Seakan-akan bertahan memperkokoh kedudukan dengan memgang rumput jejerun (jejerun sejenis rumput yang akarnya kuat dan terhujam dalam, sukar di cabut.</li>
</ul>
</div>
<p align="justify">Tari saman ditarikan dalam posisi duduk. Termasuk dalam jenis kesenian <em>ratoh duk</em> (tari duduk). Yang kelahirannya erat berkaitan dengan masuk dan berkembangnya agama islam. Dimana posisi penari duduk berlutut, berat badan tertekan kepada kedua telapak kaki. Pola ruang pada tari saman juga terbatas pada level, yakni ketinggian posisi badan. Dari posisi duduk berlutut berubah ke posisi diatas lutut (Gayo &#8211; <em>berlembuku</em>) yang merupakan level paling tinggi, sedang level yang paling rendah adalah apabila penari membungkuk badan kedepan sampai 45<sup>o </sup>(<em>tungkuk</em>) atau miring kebelakang sampai 60<sup>o</sup> (<em>langat</em>). Terkadang saat melakukan gerakan tersebut disertai gerakan miring ke kanan atau ke kiri yang disebut <em>singkeh</em>. Ada pula gerak badan dalam posisi duduk melenggang ke kanan-depan atau kiri-belakang (<em>lingang</em>).</p>
<p align="justify">Selain posisi duduk dan gerak badan, gerak tangan sangat dominan dalam tari saman. Karena dia berfungsi sebagai gerak sekaligus musik. Ada yang disebut <em>cerkop</em> yaitu kedua tangan berhimpit dan searah. Ada juga <em>cilok</em>, yaitu gerak ujung jari telunjuk seakan mengambil sesuatu benda ringan seperti garam. Dan <em>tepok</em> yang dilakukan dalam berbagai posisi (horizontal/ bolak-balik/ seperti baling-baling). Gerakan kepala seperti mengangguk dalam tempo lamban sampai cepat (<em>anguk</em>) dan kepala berputar seperti baling-baling (<em>girek)</em> juga merupakan ragam gerak saman. Kesenyawaan semua unsur inilah yang menambah keindahan dan keharmonisan dalam gerak tari saman.</p>
<p align="justify">Karena tari saman di mainkan tanpa alat musik, maka sebagai pengiringnya di gunakan tangan dan badan. Ada beberapa cara untuk mendapatkan bunyi-bunyian tersebut:</p>
<div>
<ol>
<li>Tepukan kedua belah tangan. Ini biasanya bertempo sedang sampai cepat</li>
<li>Pukulan kedua telapak tangan ke dada. Biasanya bertempo cepat</li>
<li>Tepukan sebelah telapak tangan ke dada. Umunya bertempo sedang</li>
<li>Gesekan ibu jari dengan jari tengah tangan <em>(kertip</em>). Umunya bertempo sedang.</li>
</ol>
</div>
<p align="justify">Dan nyanyian para penari menambah kedinamisan dari tarian saman. Dimana cara menyanyikan lagu-lagu dalam tari saman dibagi dalam 5 macam :</p>
<div>
<ol>
<li><em>Rengum</em>, yaitu auman yang diawali oleh pengangkat.</li>
<li><em>Dering</em>, yaitu regnum yang segera diikuti oleh semua penari.</li>
<li><em>Rede</em>t, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang penari pada bagian tengah tari.</li>
<li><em>Syek</em>, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak</li>
<li><em>Saur</em>, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan oleh penari solo.</li>
</ol>
</div>
<p align="justify">Dalam setiap pertunjukan semuanya itu di sinergikan sehingga mengahasilkan suatu gerak tarian yang mengagumkan. Jadi kekuatan tari Saman tidak hanya terletak pada syairnya saja namun gerak yang kompak menjadi nilai lebih dalam tarian. Ini boleh terwujud dari kepatuhan para penarinya dalam memainkan perannya masing-masing.</p>
<p>Itulah sekelumit tentang fungsi formasi, jenis gerak, asal musik pengiring serta nyanyian dalam pertunjukan tari Saman. Semoga bermanfaat bagi anda dalam memahami tarian Saman.</p>
<blockquote><address><strong>Sedikit Sejarah Tari Saman</strong></address>
</blockquote>
<div>
<blockquote><address>Tari ini berasal dari dataran tinggi tanah Gayo. Di ciptakan oleh seorang Ulama Aceh bernama Syekh Saman. Pada mulanya tarian ini hanya merupakan permainan rakyat biasa yang disebut <strong><em>Pok Ane</em></strong>. Melihat minat yang besar masyarakat Aceh pada kesenian ini maka oleh Syekh disisipilah dengan syair-syair yang berisi Puji-pujian kepada Allah SWT. Sehingga Saman menjadi media dakwah saat itu. Dahulu latihan Saman dilakukan di bawah kolong Meunasah (sejenis surau, saat itu bangunan aceh masih bangunan panggung). Sehingga mereka tidak akan ketinggalan untuk shalat berjamaah. </address>
<address></address>
<address>Sejalan kondisi Aceh dalam peperangan maka syekh menambahkan syair-syair yang manambah semangat juang rakyat Aceh. Tari ini terus berkembang sesuai kebutuhannya. Sampai sekarang tari ini lebih sering di tampilkan dalam perayaan-perayaan keagamaan dan kenegaraan. Tarian ini pada awalnya kurang mendapat perhatian karena keterbatasan komunikasi dan informasi dari dunia luar. Tari ini mulai mengguncang panggung saat penampilannya pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) II dan peresmian pembukaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Gemuruh Saman di TMII menggemparkan tidak hanya nusantara namun sampai ke manca negara. Saya sebagai anak negeri ini berharap semoga tari Saman bisa terus menggema.</address>
</blockquote>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luppatjeh.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luppatjeh.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luppatjeh.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luppatjeh.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luppatjeh.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luppatjeh.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luppatjeh.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luppatjeh.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luppatjeh.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luppatjeh.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luppatjeh.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luppatjeh.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luppatjeh.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luppatjeh.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=28&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/seluk-beluk-tari-saman-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3214394c5c0fcdb464010a2f84fab8b0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luppatjeh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syair Tari Saman</title>
		<link>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/syair-tari-saman/</link>
		<comments>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/syair-tari-saman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 13:22:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luppatjeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[aLL about atjeh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luppatjeh.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Tidak banyak saya jumpai teks yang memuat syair tari saman. Itu dikarenakan lagu-lagu yang dipakai pada tari saman tidak bersifat tetap (kecuali rengum). Dimana syair maupun iramanya berubah-ubah menurut tempat, waktu dan situasi pertunjukan. Sehingga tidak ada syair yang baku untuk tari saman. Samanpun terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan tempat asalnya : Saman Gayo di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=23&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Tidak banyak saya jumpai teks yang memuat syair tari saman. Itu dikarenakan<em> lagu-lagu</em> yang dipakai pada tari saman tidak bersifat tetap (kecuali <em>rengum</em>). Dimana syair maupun iramanya berubah-ubah menurut tempat, waktu dan situasi pertunjukan. Sehingga tidak ada syair yang baku untuk tari saman.</p>
<p align="justify">Samanpun terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan tempat asalnya :</p>
<blockquote><address>Saman Gayo di Aceh Tenggara dan Tengah </address>
<address>Saman Lokop di Aceh Timur </address>
<address>Saman Aceh Barat di Aceh Barat</address>
</blockquote>
<p align="justify">Tema Syair pada tarian saman pada mula pertamanya adalah tentang dakwah atau ajaran agama. Pada perkembangan selanjutnya tema tersebut bertambah dengan tema-tema lainnya seperti tentang pertanian, pembangunan, adat istiadat, muda-mudi dan lain-lain.</p>
<p align="justify">Berikut adalah contoh syair-syair lagu pengiring tari Saman yang tema utamanya adalah <strong><em>tentang muda-mudi</em></strong> untuk masa pertunjukan selama kurang lebih 10 menit. Yang di susun berdasarkan urutan penyajian tari saman dan telah di terjemahkan kedalam bahasa indonesia.<strong></strong></p>
<p align="justify"><strong>Persalaman</strong></p>
<ol>
<li>
<address><strong>Rengum/ Dering</strong></address>
</li>
</ol>
<blockquote><address><em>Hmm laila la aho</em></address>
<address><em>Hmm laila la aho</em></address>
<address><em>Hoya-hoya, sarre e hala lem hahalla</em></address>
<address><em>Lahoya hele lem hehelle le enyan-enyan</em></address>
<address><em>Ho lam an laho</em></address>
</blockquote>
<blockquote>
<blockquote><address><span style="color:#999999;"><strong>Aum/ Koor Aum</strong></span></address>
<address></address>
<address><span style="color:#999999;">Hmm tiada Tuhan selain Allah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Hmm tiada Tuhan selain Allah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Begitulah-begitulah semua kaum Bapak begitu pula kaum ibu</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Nah itulah-itulah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Tiada Tuhan selain Allah</span></address>
</blockquote>
</blockquote>
<ol>
<li><strong>Salam Kupenonton</strong></li>
</ol>
<blockquote><address><em>Salamualikum kupara penonton</em></address>
<address><em>Laila la aho</em></address>
<address><em>Simale munengon kami berseni</em></address>
<address><em>Lahoya, sarre e hala lem hahalla</em></address>
<address><em>Lahoya hele lem hehelle</em></address>
<address><em>Le enyan-enyan</em></address>
<address><em>Ho lam an laho</em></address>
<address><em>Salamni kami kadang gih meh kona</em></address>
<address><em>Laila la aho</em></address>
<address><em>Salam merdeka ibuh kin tutupe</em></address>
<address><em>Hiye sigenyan enyan e alah</em></address>
<address><em>Nyan e hailallah</em></address>
<address><em>Laila la aho, ala aho</em></address>
</blockquote>
<blockquote>
<blockquote><address><span style="color:#999999;"><strong>Salam Kepada Penonton</strong></span></address>
</blockquote>
</blockquote>
<blockquote>
<blockquote><address><span style="color:#999999;">Assalamualaikum ya para penonton</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Tiada Tuhan selain Allah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Yang hendak melihat kami berseni</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Begitu pula semua kaum bapak</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Begitu pula kaum ibu</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Nah itulah-itulah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Tiada Tuhan selain Allah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Salam kami mungkin tidak semua kena</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Tiada tuhan selain allah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Salam merdeka dijadikan penutupnya</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Ya itulah, itulah, aduh</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Itulah, kecuali Allah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Tiada tuhan selain Allah, selain allah</span></address>
</blockquote>
</blockquote>
<p><strong>Uluni Lagu/ Kepala lagu</strong></p>
<ol>
<li><em><strong>Asalni Kededes</strong></em></li>
</ol>
<blockquote><address><em>Asalni kededes kedie</em></address>
<address><em>Asalni kededes ari ulung kele keramil</em></address>
<address><em>Sentan ire rempil kedie</em></address>
<address><em>Sentan irerempil he kemenjadi jadi bola</em></address>
<address><em>Asalni kededes kedie</em></address>
<address><em>Asalni kededes ari ulung kele keramil</em></address>
<address><em>Sentan irerempil kedie</em></address>
<address><em>Sentan irerempil he kemenjadi jadi bola</em></address>
<address><em>Asalni kededes kedie</em></address>
<address><em>Asalani kededes ari ulung ke le keramil</em></address>
<address><em>Sentan irerempil kedie</em></address>
<address><em>Santan irerempil he menjadi jadi bola</em></address>
<address><em>Inget-inget bes yoh ku ine e</em></address>
</blockquote>
<blockquote>
<blockquote><address><span style="color:#999999;"><strong>Asal Bola Daun Kelapa</strong></span></address>
<address><span style="color:#999999;">Asal bola daun kelapa kiranya</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Asal bola daun kelapa dari daun kelapa</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Begitu dijalin-jalin kiranya</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Begitu di jalin-jalin ia menjadi-jadi bola</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Asal bola daun kelapa kiranya</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Asal bola daun kelapa dari daun kelapa</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Begitu dijalin-jalin kiranya</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Begitu di jalin-jalin ia menjadi-jadi bola</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Asal bola daun kelapa kiranya</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Asal bola daun kelapa dari daun kelapa</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Begitu dijalin-jalin kiranya</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Begitu di jalin-jalin ia menjadi-jadi bola</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Ingat-ingat awas sayangku aduh ibu</span></address>
</blockquote>
</blockquote>
<ol>
<li><strong>Salam Ni Rempelis Mude</strong></li>
</ol>
<blockquote><address><em>Oreno nge tewah ari beras beras padi</em></address>
<address><em>Ya hoya, oi manuk kedidi</em></address>
<address><em>He menjadi rem rempelis mude</em></address>
<address><em>Ne inget bes inget bes</em></address>
<address><em>Oi kiri sikuen kiri</em></address>
<address><em>Ara salamualaikum, rata bewene</em></address>
<address><em>Ara kesawah jamuni kami</em></address>
<address><em>Ne inget-inget bes yohku</em></address>
<address><em>Kuguncang male kuguncang</em></address>
<address><em>Salamualaikum rata bewene</em></address>
<address><em>Ne inget bes mien yohku</em></address>
<address><em>Ingatin bang tudung</em></address>
<address><em>Oi mude kin ulung mude</em></address>
<address><em>Ipantasan mulo</em></address>
</blockquote>
<blockquote>
<blockquote><address><span style="color:#999999;"><strong>Salam dari Rampelis Mude (Rampelis Mude nama sanggar)</strong></span></address>
<address><span style="color:#999999;">O runduk sudah rebah dari beras beras padi</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Ya, begitulah oi burung kedidi</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Hai menjadi Rempelis Muda</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Oh ibu, ingat awas, awas</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Oi yang dikiri dikanan-kiri</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Assalamualaikum, rata semuanya</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Adakah tiba tamu kami</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Oh ibu, inga-ingat, awas sayangku</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Ku guncang akan ku guncang</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Assalamualaikum rata semuanya</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Oh, ibu ungat awas lagi sayangku</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Digantilah tudung</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Oi muda untuk daun uda</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Dipercepat dulu.</span></address>
</blockquote>
</blockquote>
<p><strong>Lagu-lagu</strong></p>
<ol>
<li><em><strong>Le Alah Payahe</strong></em></li>
</ol>
<blockquote><address><em>He le ala payahe kejang</em></address>
<address><em>E kejang mufaedah payah musemperne</em></address>
<address><em>Enge ke engon ko kuseni ruesku</em></address>
<address><em>Senangke atemu kami lagu nini</em></address>
<address><em>Ine inget-inget bes mien yoh ku ine</em></address>
<address><em>Oho ingatin bang tudung uren</em></address>
<address><em>Awin gere kedie muselpak</em></address>
<address><em>Jangko gere kedie muleno</em></address>
<address><em>Beluh gere kedie berulak</em></address>
<address><em>Jarak gere kedie mudemu</em></address>
<address><em>Ine ilingang lingeken mulo</em></address>
<address><em>Yoh kukiri sikuen kiri</em></address>
<address><em>Tatangan katasan</em></address>
<address><em>Enti lale cube die ine</em></address>
<address><em>Awin gere kedie muselpak</em></address>
<address><em>Jangko gere kedie muleno</em></address>
<address><em>Beluh gere kedie berulak</em></address>
<address><em>Jarak gere kedie mudemu</em></address>
<address><em>Jadi bang mulongingku ine</em></address>
<address><em>O kejang teduhmi ningkah</em></address>
<address><em>Ike payah teduhmi kite</em></address>
<address><em>Ike gaduh tuker mulo</em></address>
</blockquote>
<blockquote>
<blockquote><address><span style="color:#999999;"><strong>Aduh Payahnya</strong></span></address>
<address><span style="color:#999999;">Hai, aduh payahnya, payah lelah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">E, lelah berfaedah, payah memuaskan</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Sudahlah kau lihat sendi ruasku</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Senangkah kamu kami seperti ini</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Oh ibu, ingat-ingat lagi sayangku, oh ibu</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Oho, diganti dulu payung hujan</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Di tarik, tidaklah nanti patah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Dijangko tidaklah nanti rebah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Pergi tidaklah nanti kembali</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Jauh tidaklah lagi bertemu</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Oh ibu, di goyang, di geleng dulu</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Hai ke kiri, ke kanan-kiri</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Angkatlah lebih tinggi </span></address>
<address><span style="color:#999999;">Jangan lalai cobalah dulu, oh ibu</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Di tarik, tidaklah nanti patah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Dijangko tidaklah nanti rebah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Pergi tidaklah nanti kembali</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Jauh tidaklah lagi bertemu</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Cukuplah dulu adikku, oh ibu</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Oh, capek berhenti dulu meningkah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Jika payah berhenti dulu kita</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Jika letih tukar dulu</span></address>
</blockquote>
</blockquote>
<ol>
<li><strong>Balik Berbalik</strong></li>
</ol>
<blockquote><address><em>Iye balik berbalik</em></address>
<address><em>Gelap uram terang uren urum sidang</em></address>
<address><em>Simunamat punce wae ala aho</em></address>
<address><em>He nyan e hae ala aho</em></address>
<address><em>Aho &#8211; aho &#8211; aho</em></address>
<address><em>Iye balik berbalik</em></address>
<address><em>Gelap uram terang uren urum sidang</em></address>
<address><em>Simunamat punce wae ala aho</em></address>
<address><em>He nyan e hae ala aho</em></address>
<address><em>Aho &#8211; aho &#8211; aho</em></address>
</blockquote>
<blockquote>
<blockquote><address><span style="color:#999999;"><strong>Balik Berbalik</strong></span></address>
<address><span style="color:#999999;">Iya ku balik berbalik</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Gelap dengan terang, hujan dengan teduh</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Yang nmemegang punca Dialah, Ya Tuhan</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Itulah dia, ya Tuhan</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Ya Allah &#8211; Ya Allah &#8211; Ya Allah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Iya ku balik berbalik</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Gelap dengan terang, hujan dengan teduh</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Yang nmemegang punca Dialah, Ya Tuhan</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Itulah dia, ya Tuhan</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Ya Allah &#8211; Ya Allah &#8211; Ya Allah</span></address>
</blockquote>
</blockquote>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<ol>
<li><strong>Gere Kusangka</strong></li>
</ol>
<blockquote><address><em>Gere kusangka, aha kenasibku bese</em></address>
<address><em>Berumah rerampe ehe itepini paya</em></address>
<address><em>Berumah rerampe ehe itepini paya</em></address>
<address><em>Suyeni uluh, nge turuh supue sange</em></address>
<address><em>Mago-mago bese aku putetangak mata</em></address>
<address><em>Mago-mago bese aku putetangak mata</em></address>
<address><em>Tetea tetar ahar reringe petepas</em></address>
<address><em>Gere kidie melas dengan naik iruangku</em></address>
<address><em>Gere kidie melas dengan naik iruangku</em></address>
</blockquote>
<blockquote>
<blockquote><address><span style="color:#999999;"><strong>Tidak Kusangka</strong></span></address>
<address><span style="color:#999999;">Tidak kusangka, aha kalau nasibku begini</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Berumah rerumputan ditepinya rawa</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Berumah rerumputan ditepinya rawa</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Tiangnya bambu, sudah bocor atap dari pimping</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Sulit-sulit begitu aku berputih mata</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Sulit-sulit begitu aku berputih mata</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Lantainya belahan bambu, dindingnya pun tepas</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Tidakkah kiranya menyesal saudara naik kerumahku</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Tidakkah kiranya menyesal saudara naik kerumahku</span></address>
</blockquote>
</blockquote>
<ol>
<li><strong>Kemutauh Uren</strong></li>
</ol>
<blockquote><address>Kemutauh uren ari langit</address>
<address>Munerime kedie bumi</address>
<address>Kemutauh uren ari langit</address>
<address>Munerime kedie bumi</address>
<address>I nampaan ara baro renah</address>
<address>Cabang tewah ku lawe due</address>
<address>Ari abang gih mungkin berubah</address>
<address>Bier lopah itumpun kudede</address>
<address>Kemutauh uren ari langit</address>
<address>Munerime kedie bumi</address>
<address>Kemutauh uren ari langit</address>
<address>Munerime kedie bumi</address>
<address>I nampaan ara baro renah</address>
<address>Cabang tewah ku lawe due</address>
<address>Ari abang gih mungkin berubah</address>
<address>Bier lopah itumpun kudede</address>
<address>Kerna langkah ni kami serapah</address>
<address>Berizin mi biak sudere</address>
<address>Kesediken cerak kami salah</address>
<address>Niro maaf kuama ine</address>
</blockquote>
<blockquote>
<blockquote><address><span style="color:#999999;"><strong>Jika Turun Hujan</strong></span></address>
<address><span style="color:#999999;">Jika turun hujan dari langit</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Menerimakah kiranya bumi</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Jika turun hujan dari langit</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Menerimakah kiranya bumi</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Di nampaan ada waru rendah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Cabang rebah ke lawe due</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Dari abang tidak mungkin berubah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Biar pisau tancapkan ke dada</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Jika turun hujan dari langit</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Menerimakah kiranya bumi</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Jika turun hujan dari langit</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Menerimakah kiranya bumi</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Di nampaan ada waru rendah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Cabang rebah ke Lawe Due</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Dari abang tidak mungkin berubah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Biar pisau tancapkan ke dada</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Karena langkah kami segera bergegas</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Mohon izin kepada sanak saudara</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Sekiranya ucapan kami salah</span></address>
<address><span style="color:#999999;">Mohon maaf kepada ibu-bapak</span></address>
</blockquote>
</blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luppatjeh.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luppatjeh.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luppatjeh.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luppatjeh.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luppatjeh.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luppatjeh.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luppatjeh.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luppatjeh.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luppatjeh.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luppatjeh.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luppatjeh.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luppatjeh.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luppatjeh.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luppatjeh.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=23&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/syair-tari-saman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3214394c5c0fcdb464010a2f84fab8b0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luppatjeh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tari Saman Aceh</title>
		<link>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/tari-saman-aceh/</link>
		<comments>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/tari-saman-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 13:20:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luppatjeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[aLL about atjeh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luppatjeh.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Tari Saman Tari Saman adalah salah satu tarian daerah Aceh yang sangat terkenal. Zaman sekarang bisa dikatakan tidak ada orang yang tidak mengenal tari Saman. Hampir semua orang mengenalnya baik yang berada didalam maupun di luar negeri. Dalam setiap penampilannya tari Saman sungguh memukau. Dari awal hingga akhir pertunjukan tarian ini selalu menghadirkan suasana magis baik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=17&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="thumbinner" style="width:108px;"><a class="image" title="Tari Saman" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Berkas:Tari_Saman.jpg"><img class="thumbimage" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/f/f7/Tari_Saman.jpg" border="0" alt="Tari Saman" width="106" height="142" /></a></p>
<div class="thumbcaption">
<div class="magnify"><a class="internal" title="Perbesar" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Berkas:Tari_Saman.jpg"><img src="http://luppatjeh.wordpress.com/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png" alt="" width="15" height="11" /></a></div>
<p>Tari Saman</p></div>
</div>
<p><strong>Tari Saman</strong> adalah salah satu tarian daerah <a class="mw-redirect" title="Aceh" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Aceh">Aceh</a> yang sangat terkenal.</p>
<p>Zaman sekarang bisa dikatakan tidak ada orang yang tidak mengenal tari Saman. Hampir semua orang mengenalnya baik yang berada didalam maupun di luar negeri. Dalam setiap penampilannya tari Saman sungguh memukau. Dari awal hingga akhir pertunjukan tarian ini selalu menghadirkan suasana magis baik bagi penari maupun penontonnya.</p>
<p align="justify">Saya akan coba membawa anda semua masuk kedalam babak demi babak dalam tari saman. Pada awal pertunjukan tarian saman di mulai dengan persalaman. Persalaman ini terdiri dari <em>rengum</em> dan <em>salam</em>. Rengum adalah suara bergumam dari seluruh penari. Walau tak terdengar jelas tetapi sebenarnya mereka memuji dan membesarkan nama Allah SWT dengan lafaz;</p>
<div>
<blockquote><address><span style="color:#ff6600;"><em>Hmm laila la ho</em></span></address>
<address><span style="color:#ff6600;"><em>Hmm laila la ho</em></span></address>
<address><span style="color:#ffcc00;"><em>Hmm tiada Tuhan selain Allah</em></span></address>
<address><span style="color:#ffcc00;"><em>Hmm tiada Tuhan selain Allah</em></span></address>
</blockquote>
</div>
<p align="justify">Bila anda menyaksikan pementasan tarian Saman ini, anda akan terdiam seketika saat mendengar gumaman para penari dan ikut larut bersama emosi para penarinya. Rengum ini diucapkan dengan suara rendah namun menggema. Menggetarkan panggung dan jiwa-jiwa penari dan penontonnya. Bagi yang pernah menonton pertunjukan Saman tentu tahu maksud saya. Suasana hening langsung tercipta saat itu. Penonton diajak untuk ikut hikmat dalam mentauhidkan Tuhan.</p>
<p align="justify">Gerak tarinya sendiri masih sangat terbatas dan sederhana. Kepala tertunduk dan tangan bersikap sembah. Regum menunjukan penyerahan diri kepada Allah SWT, juga berperan menyamakan vokal dan konsentrasi. Setelah tercipta suasana khidmat lalu dilanjutkan dengan persalaman. Ucapan salam ditujukan kepada penonton dan berbagai pihak dengan ucapan Assalamualaikum. lalu meminta izin untuk bermain Saman (adab dan etika).</p>
<p align="justify">Setelah persalaman barulah dilanjutkan dengan <em>Ulu Ni Lagu</em>. Secara harfiah ulu ni lagu berarti kepala lagu. Namun disini lebih berarti ragam-ragam gerak tari. Dalam babakan ulu ni lagu ini gerakan telah bervariasi, kesenyawaan antara gerak tangan, tepuk didada &#8211; gerakan badan dan kepala. Namun gerakan masih lamban. Suasana khidmat masih terasa disini. Bagian ini seperti pemanasan sebelum kita diajak dalam ekstase gerak cepat Saman lainnya. Lalu yang disebut sebagai syekh dengan suara melengking akan memberkan aba-aba pada saat akhir gerak ulu ni lagu yang menandakan akan segera berganti gerak dan memasuki ritme cepat dengan ucapan syair:</p>
<div>
<blockquote><address><span style="color:#ff6600;"><em>Inget-inget pongku &#8211; male i guncang</em></span></address>
<address><span style="color:#ffcc00;">Ingat -ingat teman akan diguncang</span></address>
</blockquote>
</div>
<p align="justify">Masuklah kita pada babak<em> lagu-lagu</em>. Babak ini adalah puncak gerakan tari saman. Para penari dituntut konsentrasi optimal dan stamina yang prima. Selain harus bergerak cepat babak ini juga diselingi dengan vokal bersama (derek). Gerakan yang utuh tampak pada kecepatan gerak tangan yang menghentak dada, paha maupun tepukan, gerakan badan keatas-kebawah secara serentak maupun bersilang, badan miring kekiri &#8211; ke kanan kiri serentak maupun bersilang (singkeh kuwen), gerakan kepala mengangguk cepat maupun kepala berputar dibawah (girik), maupun petikan jari. Diselingi gerakan lambat yang diawali ucapan syair dari syekh.</p>
<p align="justify">Demikian gerakan ini berulang-ulang antara cepat dan lambat, dengan iringan beberapa lagu. Selain penari yang terbawa dalam ekstase gerakan cepat dan kedinamisannya, para penontonpun ikut menahan nafas mengikuti pergantian gerak dan naik-turunnya ritme tarian. Bagai tersihir dalam gerak indah itu. Saya yakin saat anda menyaksikan babak ini anda tak ingin mengedipkan mata sedikitpun. Karena kecepatan dan keseragaman yang memukau itulah yang menarik anda seakan ikut dalam irama penari yang bergerak serentak.</p>
<p align="justify">Lalu anda diajak mengendorkan ketegangan dan mengembalikan pernafasan dalam babak <em>Uak Ni Kemuh</em> yang berarti secara harfiah obatnya gerak. Diiringi nyanyian sederhana dan nada rendah tidak memaksa. Apabila kondisi penari telah pulih, dimulai gerak cepat yang diawali aba-aba oleh syekh dengan ragam gerak yang lain. Pada saat gerak menggebu-gebu puncak, iringan vokal berhenti hanya terlihat gerak saja. Disini tak ada suara selain suara memukul, menghentakkan dada, tepuk tangan, meghentak paha yang di tarikan secara cepat. Anda dapat bayangkan suasana yang tercipta saat itu. Gerak cepat tanpa vokal inilah yang kemudian bagai menciptakan suasana magis bagi penari dan penontonnya.</p>
<p align="justify">Barulah setelah itu anda akan kembali menyaksikan gerak sederhana sebagai <em>penutup</em> dalam tarian saman. Dalam babak ini yang dipentingkan adalah syair, ungkapan kata, kata perpisahan, permintaan maaf kepada penonton dan pihak-pihak tertentu.</p>
<p align="justify">Setelah menyaksikan tari saman secara keseluruhan anda akan mendapat kesan yang mendalam terhadap tarian ini. Bisa karena kecepatan dalam membawakannya atau suasana magis yang anda rasa saat mengikuti setiap gerak dan ritme tariannya. Namun apa yang saya gambarkan masih jauh dari keindahan tari saman itu sendiri. Akhir kata saya mengucapkan “Selamat menikmati Kekuatan Magis dalam Gerak Tarian Aceh, Tari Saman&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luppatjeh.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luppatjeh.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luppatjeh.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luppatjeh.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luppatjeh.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luppatjeh.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luppatjeh.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luppatjeh.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luppatjeh.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luppatjeh.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luppatjeh.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luppatjeh.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luppatjeh.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luppatjeh.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=17&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/tari-saman-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3214394c5c0fcdb464010a2f84fab8b0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luppatjeh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/f/f7/Tari_Saman.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tari Saman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://luppatjeh.wordpress.com/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bahasa Aceh</title>
		<link>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/bahasa-aceh/</link>
		<comments>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/bahasa-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 13:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luppatjeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[aLL about atjeh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luppatjeh.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Aceh, Bahasa Indonesia. Meskipun banyak yang menggunakan bahasa Aceh dalam pergaulan sehari-hari, namun tidak berarti bahwa corak dan ragam bahasa Aceh yang digunakan sama. Tidak saja dari segi dialek yang mungkin berlaku bagi bahasa di daerah lain; bahasa Aceh bisa berbeda dalam pemakaiannya, bahkan untuk kata-kata yang bermakna sama. Kemungkinan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=18&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahasa yang digunakan adalah <a title="Bahasa Aceh" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Bahasa_Aceh">Bahasa Aceh</a>, <a title="Bahasa Indonesia" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Bahasa_Indonesia">Bahasa Indonesia</a>.</p>
<p>Meskipun banyak yang menggunakan bahasa Aceh dalam pergaulan sehari-hari, namun tidak berarti bahwa corak dan ragam bahasa Aceh yang digunakan sama. Tidak saja dari segi dialek yang mungkin berlaku bagi bahasa di daerah lain; bahasa Aceh bisa berbeda dalam pemakaiannya, bahkan untuk kata-kata yang bermakna sama. Kemungkinan besar hal ini disebabkan banyaknya percampuran bahasa, terutama di daerah pesisir, dengan bahasa daerah lainnya atau juga karena kelestarian bahasa aslinya.</p>
<p>Orang Aceh mempunyai bahasa sendiri yakni bahasa Aceh, yang termasuk rumpun bahasa Austronesia. Bahasa Aceh terdiri dari beberapa dialek, di antaranya dialek Peusangan, Banda, Bueng, Daya, Pase, Pidie, Tunong, Seunagan, Matang, dan Meulaboh, tetapi yang terpenting adalah dialek Banda. Dialek ini dipakai di Banda Aceh. Dalam tata bahasanya, Bahasa Aceh tidak mengenal akhiran untuk membentuk kata yang baru, sedangkan dalam sistem fonetiknya, tanda &#8216;eu&#8217; kebanyakan dipakai tanda pepet (bunyi e).</p>
<p>Dalam bahasa Aceh, banyak kata yang bersuku satu. Hal ini terjadi karena hilangnya satu vocal pada kata-kata yang bersuku dua, seperti &#8220;turun&#8221; menjadi &#8220;tron&#8221;, karena hilangnya suku pertama, seperti &#8220;daun&#8221; menjadi &#8220;beuec&#8221;. Di samping itu banyak pula kata-kata yang sama dengan bahasa-bahasa <a class="new" title="Indonesia Bagian Timur (belum dibuat)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=Indonesia_Bagian_Timur&amp;action=edit&amp;redlink=1">Indonesia Bagian Timur</a>.</p>
<p>Masyarakat Aceh yang berdiam di kota umumnya menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan sosial. Namun demikian, masyarakat Aceh yang berada di kota tersebut mengerti dengan pengucapan bahasa Aceh. Selain itu, ada pula masyarakat yang memadukan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Aceh dalam berkomunikasi. Pada masyarakat Aceh di pedesaan, bahasa Aceh lebih dominan dipergunakan dalam kehidupan sosial mereka. Dalam sistem bahasa tulisan tidak ditemui sistem huruf khas bahasa Aceh asli.</p>
<p>Tradisi bahasa tulisan ditulis dalam huruf Arab-Melayu yang disebut bahasa Jawi atau Jawoe, Bahasa Jawi ditulis dengan huruf Arab ejaan Melayu. Pada masa Kerajaan Aceh banyak kitab ilmu pengetahuan agama, pendidikan, dan kesusasteraan ditulis dalam bahasa Jawi. Pada makam-makam raja Aceh terdapat juga huruf Jawi. Huruf ini dikenal setelah datangnya Islam di Aceh. Banyak orang-orang tua Aceh yang masih bisa membaca huruf Jawi.</p>
<p>Bahasa lain yang digunakan di Acah adalah <a title="Bahasa Gayo" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Bahasa_Gayo">Bahasa Gayo</a> yang dituturkan di kabupaten <a class="mw-redirect" title="Aceh Tengah" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Aceh_Tengah">Aceh Tengah</a>, <a class="mw-redirect" title="Bener Meriah" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Bener_Meriah">Bener Meriah</a>, <a class="mw-redirect" title="Gayo Lues" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Gayo_Lues">Gayo Lues</a> dan Serbajadi, <a class="mw-redirect" title="Aceh Timur" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Aceh_Timur">Aceh Timur</a>. <a title="Bahasa Simeulue" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Bahasa_Simeulue">Bahasa Simeulue</a> dan beberapa bahasa lainnya di kabupaten <a title="Simeulue" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Simeulue">Simeulue</a>, Melayu <a title="Tamiang" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Tamiang">Tamiang</a>, <a title="Alas" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Alas">Alas</a>, <a title="Aneuk Jamee" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Aneuk_Jamee">Aneuk Jamee</a> yang merupakan dialek <a title="Bahasa Minangkabau" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Bahasa_Minangkabau">Bahasa Minangkabau</a> dan <a title="Bahasa Kluet" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Bahasa_Kluet">Bahasa Kluet</a>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luppatjeh.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luppatjeh.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luppatjeh.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luppatjeh.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luppatjeh.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luppatjeh.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luppatjeh.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luppatjeh.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luppatjeh.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luppatjeh.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luppatjeh.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luppatjeh.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luppatjeh.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luppatjeh.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=18&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/bahasa-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3214394c5c0fcdb464010a2f84fab8b0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luppatjeh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FOTO &#8211; FOTO SEJARAH ACEH</title>
		<link>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/foto-foto-sejarah-aceh/</link>
		<comments>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/foto-foto-sejarah-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 13:03:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luppatjeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[aLL about atjeh]]></category>
		<category><![CDATA[Lupp atjeh^^]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luppatjeh.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[momo- 06-07-2007 sultan muhammad daud syah thn 1903 Panglima Polim beserta zit links van Colijn kraton sultan Atjeh 28 januari 1874   momo- 06-07-2007 mesjid Koeta Radja Banda Atjeh 1906-1919 panglima laot sereuta tjut nyak dhien BANDA ATJEH, KOETA RADJA, Demmeni-Brug 1878 neugara atjeh 1650-1750   momo- 06-07-2007 Daftar Sultan Aceh   momo- 06-07-2007   [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=11&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="phead"><strong>momo</strong>- 06-07-2007</div>
<div class="postshell">
<div class="postcolor"><strong></strong><br />
<img src="http://www.acehforum.biz/uploads/e827f7fc69.jpg" alt="" /> sultan muhammad daud syah thn 1903 <img src="http://www.acehforum.biz/uploads/c5b428c063.jpg" alt="" /> Panglima Polim beserta zit links van Colijn <img src="http://www.acehforum.biz/uploads/c3c9236ea4.jpg" alt="" /> kraton sultan Atjeh 28 januari 1874</div>
</div>
<p> </p>
<div class="phead"><strong>momo</strong>- 06-07-2007</div>
<div class="postshell">
<div class="postcolor"><strong></strong><br />
<img src="http://www.acehforum.biz/uploads/2c9dea4dd4.jpg" alt="" /> mesjid Koeta Radja Banda Atjeh 1906-1919 <img src="http://www.acehforum.biz/uploads/9e5a7e6d39.jpg" alt="" /> panglima laot sereuta tjut nyak dhien <img src="http://www.acehforum.biz/uploads/712b7e3e04.jpg" alt="" /> BANDA ATJEH, KOETA RADJA, Demmeni-Brug 1878 <img src="http://www.acehforum.biz/uploads/2e92e76032.jpg" alt="" /> neugara atjeh 1650-1750</div>
</div>
<p> </p>
<div class="phead"><strong>momo</strong>- 06-07-2007</div>
<div class="postshell">
<div class="postcolor"><strong></strong><br />
Daftar Sultan Aceh <img src="http://i92.photobucket.com/albums/l24/xiedodaidi/dftarsultan1.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p> </p>
<div class="phead"><strong>momo</strong>- 06-07-2007</div>
<div class="postshell">
<div class="postcolor"><strong></strong><br />
<img src="http://i92.photobucket.com/albums/l24/xiedodaidi/dftarsultan2.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p> </p>
<div class="phead"><strong>4dmin</strong>- 07-26-2007</div>
<div class="postshell">
<div class="postcolor"><strong>Bangsawan Aceh (1912)</strong><br />
<strong>Bangsawan Aceh (1912)</strong> <img src="http://img213.imageshack.us/img213/4154/image0263uf.jpg" alt="" /> <img src="http://img150.imageshack.us/img150/579/image0288jq.jpg" alt="" /> <img src="http://img201.imageshack.us/img201/7964/image0306it.jpg" alt="" /> <img src="http://img224.imageshack.us/img224/9861/image0324jx.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p> </p>
<div class="phead"><strong>4dmin</strong>- 07-26-2007</div>
<div class="postshell">
<div class="postcolor"><strong></strong><br />
<strong>Pedang Pasangan (Peudeueng Peusangan)</strong> <img src="http://img267.imageshack.us/img267/9190/peudeuengpeusangan1jo.jpg" alt="" /> <strong>Pedang Pasangan (Peudeueng Peusangan) dengan Hulu Meu Apet</strong> <img src="http://img219.imageshack.us/img219/8761/atypicalscabbardforapeu0rx.jpg" alt="" /> <img src="http://img154.imageshack.us/img154/328/closeupofaahulumeuapet2mf.jpg" alt="" /> <strong>Sarung Pedang Pasangan (Peudeueng Peusangan)</strong> <img src="http://img405.imageshack.us/img405/6333/atypicalscabbardforapeu0uv.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p> </p>
<div class="phead"><strong>4dmin</strong>- 07-26-2007</div>
<div class="postshell">
<div class="postcolor"><strong></strong><br />
<strong>Pedang Pasangan (Peudeueng Peusangan) dengan Hulu Tumpang Beunteung (Hulu Pasangan)</strong> <img src="http://img267.imageshack.us/img267/539/peudeuengpeusanganwitha5yz.jpg" alt="" /> <img src="http://img262.imageshack.us/img262/6325/closeupofahulutumpangbe7ti.jpg" alt="" /> <strong>Pedang Panjang (Peudeueng Panjang) dengan Hulu Tumpang Beunteung (Hulu Buaya)</strong> <img src="http://img187.imageshack.us/img187/918/pedangpanjanghulubuaya0tn7.jpg" alt="" /> <img src="http://img187.imageshack.us/img187/910/pedangpanjanghulubuaya0kt6.jpg" alt="" /> <strong>Sarung Pedang Panjang (Peudeung Panjang)</strong> <img src="http://img222.imageshack.us/img222/6050/scabbardforapeudeuengpa5eg.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p> </p>
<div class="phead"><strong>4dmin</strong>- 07-26-2007</div>
<div class="postshell">
<div class="postcolor"><strong></strong><br />
<strong>Panji Perang Kesultanan Acheh</strong> <img src="http://img295.imageshack.us/img295/4752/panjiperangkesultananacjz0.jpg" alt="" /> <img src="http://img295.imageshack.us/img295/2365/panjiperangkesultananacky7.jpg" alt="" /> <img src="http://img295.imageshack.us/img295/8674/panjiperangkesultananaclc9.jpg" alt="" /> <img src="http://img300.imageshack.us/img300/8869/panjiperangkesultananacbv7.jpg" alt="" /> <strong>Pendekar Aceh bersama Pedang , Perisai, Rencong dan Baju Perisai</strong> <img src="http://img256.imageshack.us/img256/5497/jgdielesacehwarriorswit2wx.jpg" alt="" /> <img src="http://img295.imageshack.us/img295/7619/pendekarachehit1.jpg" alt="" /></div>
</div>
<p> </p>
<div class="phead"><strong>4dmin</strong>- 07-26-2007</div>
<div class="postshell">
<div class="postcolor"><strong></strong><br />
<strong>Pedang Aceh</strong> <img src="http://img134.imageshack.us/img134/5701/pedangaceh1whole8tv.jpg" alt="" /> <img src="http://img222.imageshack.us/img222/1554/pedangaceh3unsheathed8fd.jpg" alt="" /> <img src="http://img263.imageshack.us/img263/2398/pedangaceh2ahulu8ml.jpg" alt="" /> <img src="http://img263.imageshack.us/img263/6430/pedangaceh2cguard8zl.jpg" alt="" /> <img src="http://img228.imageshack.us/img228/1117/pedangaceh2bbuah6aq.jpg" alt="" /> <img src="http://img151.imageshack.us/img151/3295/pedangaceh4abladebase6nf.jpg" alt="" /> <img src="http://img254.imageshack.us/img254/195/pedangaceh4bblademid0jt.jpg" alt="" /> <img src="http://img254.imageshack.us/img254/7756/pedangaceh4cbladequarte2up.jpg" alt="" /> <img src="http://img206.imageshack.us/img206/3883/pedangaceh4dbladetip8dd.jpg" alt="" /> <img src="http://img206.imageshack.us/img206/2158/pedangaceh4ebladedown7gf.jpg" alt="" /></div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luppatjeh.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luppatjeh.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luppatjeh.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luppatjeh.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luppatjeh.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luppatjeh.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luppatjeh.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luppatjeh.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luppatjeh.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luppatjeh.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luppatjeh.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luppatjeh.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luppatjeh.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luppatjeh.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=11&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/foto-foto-sejarah-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3214394c5c0fcdb464010a2f84fab8b0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luppatjeh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.acehforum.biz/uploads/e827f7fc69.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.acehforum.biz/uploads/c5b428c063.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.acehforum.biz/uploads/c3c9236ea4.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.acehforum.biz/uploads/2c9dea4dd4.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.acehforum.biz/uploads/9e5a7e6d39.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.acehforum.biz/uploads/712b7e3e04.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.acehforum.biz/uploads/2e92e76032.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://i92.photobucket.com/albums/l24/xiedodaidi/dftarsultan1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://i92.photobucket.com/albums/l24/xiedodaidi/dftarsultan2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img213.imageshack.us/img213/4154/image0263uf.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img150.imageshack.us/img150/579/image0288jq.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img201.imageshack.us/img201/7964/image0306it.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img224.imageshack.us/img224/9861/image0324jx.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img267.imageshack.us/img267/9190/peudeuengpeusangan1jo.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img219.imageshack.us/img219/8761/atypicalscabbardforapeu0rx.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img154.imageshack.us/img154/328/closeupofaahulumeuapet2mf.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img405.imageshack.us/img405/6333/atypicalscabbardforapeu0uv.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img267.imageshack.us/img267/539/peudeuengpeusanganwitha5yz.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img262.imageshack.us/img262/6325/closeupofahulutumpangbe7ti.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img187.imageshack.us/img187/918/pedangpanjanghulubuaya0tn7.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img187.imageshack.us/img187/910/pedangpanjanghulubuaya0kt6.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img222.imageshack.us/img222/6050/scabbardforapeudeuengpa5eg.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img295.imageshack.us/img295/4752/panjiperangkesultananacjz0.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img295.imageshack.us/img295/2365/panjiperangkesultananacky7.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img295.imageshack.us/img295/8674/panjiperangkesultananaclc9.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img300.imageshack.us/img300/8869/panjiperangkesultananacbv7.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img256.imageshack.us/img256/5497/jgdielesacehwarriorswit2wx.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img295.imageshack.us/img295/7619/pendekarachehit1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img134.imageshack.us/img134/5701/pedangaceh1whole8tv.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img222.imageshack.us/img222/1554/pedangaceh3unsheathed8fd.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img263.imageshack.us/img263/2398/pedangaceh2ahulu8ml.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img263.imageshack.us/img263/6430/pedangaceh2cguard8zl.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img228.imageshack.us/img228/1117/pedangaceh2bbuah6aq.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img151.imageshack.us/img151/3295/pedangaceh4abladebase6nf.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img254.imageshack.us/img254/195/pedangaceh4bblademid0jt.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img254.imageshack.us/img254/7756/pedangaceh4cbladequarte2up.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img206.imageshack.us/img206/3883/pedangaceh4dbladetip8dd.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img206.imageshack.us/img206/2158/pedangaceh4ebladedown7gf.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Gubernur Minta Sejarah Aceh Ditulis Ulang</title>
		<link>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/gubernur-minta-sejarah-aceh-ditulis-ulang/</link>
		<comments>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/gubernur-minta-sejarah-aceh-ditulis-ulang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 13:02:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luppatjeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[aLL about atjeh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luppatjeh.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[      28-Februari-2007 12:02:06 Banda Aceh, (Analisa) - Gubernur NAD, Irwandi Yusuf meminta agar sejarah Aceh dapat ditulis ulang dengan mengangkat apa saja yang selama ini tersembunyi yang tidak diketahui banyak pihak, baik di dalam maupun di luar Aceh. �Jadi dengan demikian, nanti anak cucu atau generasi selanjutnya akan mendapatkan sejarah Aceh yang benar,� [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=6&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table class="isipaneopen" border="0" cellspacing="1" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="70%" align="left" valign="top"> </td>
<td align="right" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top"><span class="createdate">28-Februari-2007 12:02:06</span><br />
<span style="font-size:x-small;"><strong><span style="color:#9900cc;"><em>Banda Aceh, (Analisa) -</em></span></strong> G</span><span style="font-size:x-small;">ubernur NAD, Irwandi Yusuf meminta agar sejarah Aceh dapat ditulis ulang dengan mengangkat apa saja yang selama ini tersembunyi yang tidak diketahui banyak pihak, baik di dalam maupun di luar Aceh.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">�Jadi dengan demikian, nanti anak cucu atau generasi selanjutnya akan mendapatkan sejarah Aceh yang benar,� tegas Irwandi Yusuf dalam temu pers bersama seusai penutupan Konferensi Internasional tentang Aceh di sebuah hotel berbintang di Banda Aceh, Selasa (27/2) sore.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Selain tentang penulisan sejarah Aceh ini, Gubernur Irwandi juga menekankan dua hal lain yang perlu dilakukan pasca Konferensi Internasional yang menghabiskan dana sebesar Rp1,7 miliar dengan mendatangkan para pakar sejarah dari berbagai belahan dunia maupun nasional.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Dua hal lain yang sangat diperlukan itu agar dibentuk pusat kajian internasional tentang gempa bumi dan tsunami yang berpusat di Aceh. Apapun kegiatan dalam penelitian tersebut, pusatnya tetap di Aceh bukan di tempat lain.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Gubernur juga mengharapkan hasil konferensi ini juga dilakukan tindak lanjut (follow- up) yang nyata. �Jangan hanya sekadar konferensi saja, namun harus ada tindaklanjut yang nyata dan bisa diukur atau lihat oleh semua pihak,� tegasnya.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><strong>PENJABARAN</strong></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Hal ini merupakan penjabaran dari pernyataan Irwandi saat membuka konferensi internasional akhir pekan lalu, dimana pada kesempatan tersebut dinyatakan Aceh bisa dijadikan pusat studi gempa dan tsunami internasional. </span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Jalan ke arah itu bisa dilakukan karena bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 lalu, sangatlah dahsyat dan membuka mata dunia. </span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Karenanya melalui Konferensi Internasional yang menelan biaya mencapai Rp1,7 miliar, diharapkan bisa melahirkan sesuatu yang berharga bagi pembangunan di Aceh, baik saat ini dan masa mendatang. Bagaimanapun Konferensi Internasional ini harus bisa sukses di tengah kritikan tajam dari berbagai kalangan.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">�Momen ini tak bisa dinilai dengan uang, makanya saya berharap Aceh bisa menjadi pusat studi gempa dan tsunami internasional,� tegas Irwandi Yusuf.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Dikatakan, konferensi tidak hanya membahas masalah Aceh saja, melainkan juga posisi Aceh dengan tetangga-tetangganya di kawasan Samudera Hindia. Juga membahas masalah peran penting Aceh di kawasan Asia di masa lampau dan peran potensialnya saat ini dan masa mendatang.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Pernyataan Irwandi ini mendapat dukungan penuh dari Menristek Kusmayanto Kardiman, dimana dikatakan terlepas kata orang kalau biaya konferensi ini mahal, namun hasil yang diperoleh tidak dapat diukur dan dibeli dengan uang.�Saya dukung penuh pernyataan gubernur,� ujar Menristek.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><strong>LAHIR</strong></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Sementara itu, hasil Konferensi Internasional tentang Aceh yang diselenggarakan dalam empat hari, melahirkan sebuah Lembaga Pusat Riset Internasional yang nantinya akan melakukan penelitian secara mendalam berbagai hal tentang Aceh.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Cakupannya bukan saja Aceh, bahkan dunia internasional juga akan menjadi bahan penelitian tentang berbagai hal, terutama tentang masalah gempa dan tsunami yang pernah melanda Aceh dan sejumlah kawasan di Asia akhir Desember 2004 lalu.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Dalam Konfrensi Internasional tentang Aceh yang sempat ditentang kalangan NGO di Aceh ini, juga melahirkan sebuah MoU atau nota kesepakatan antara BRR Aceh-Nias, Pemprov NAD, Kementerian Negara Riset dan Teknologi dengan Universitas Syiah Kuala tentang pemanfaatan ilmu pengatahuan dan teknologi.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Nota kesepakatan itui, ditandatangi langsung oleh Menristek Kusmayanto Kardiman, Kepala BRR Kuntoro Mangkusubroto, Gubernur NAD Irwandi Yusuf serta Rektor Unsyiah Darni M Daud seusai penutupan Konferensi Internasional itu, Selasa (27/2) sore.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Menristek kepada wartawan mengungkapkan, hasil Konfrensi Internasional yang melelahkan ini melahirkan sebuah kesepakatan bersama untuk mendirikankan pusat riset internasional di Aceh.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Hal itu langsung diwujudkan dalam langkah konkrit dengan penandatangan Nota Kesepakatan antar empat lembaga. Ini salah satu bukti, hal ini bukan main-main, melainkan suatu yang nyata bahwa bagaimanapun pusat penelitian ini harus berada di Aceh.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">�Kita betul-betul mau membangun, pusat riset ini tuan rumahnya adalah Aceh. Jadi tak lucu bila konfrensi yang digelar Asia Research Institute Nasional University of Singapore, pusatnya di Singapura, karena konfrensinya sendiri digelar di Aceh,� tegas Menristek.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Namun, ujar Menristek, bukan berarti pusat penelitian ini hanya untuk Aceh saja, melainkan membuka pintu selebar-lebarnya bagi dunia internasional untuk melakukan penelitian di Aceh ini tentang berbagai hal.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">�Boleh saja tempatnya di Aceh, namun aksesnya mencakup dunia. Inilah tindak lanjut konkrit dalam pertemuan Konferensi Internasional ini,� ujar Menristek. </span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Sementara Kepala BRR, Kuntoro Mangkusubroto mengungkapkan, dengan adanya pusat riset di Aceh ini, akan banyak dilakukan penelitian-penelitian di Aceh. Mulai arkeologi, sejarah sampai pada aspek-aspek rekonstruksi hingga pengaksesan sistem peringatan dini tentang apakah tsunami akan datang bila terjadinya gempa bumi di Aceh.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">�Ini merupakan awal yang sangat baik sekali, sekaligus menjadi sebuah prodak yang akan dipasang dalam memajukan negeri dan bangsa ini, terutama bagi Aceh,� ujar Kuntoro.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Dikatakan, penelitian-penelitian akan segera dilakukan. BRR sendiri sangat komit akan proyek penelitian ini. Dimana, nantinya BRR akan mengirimkan tigapeneliti ke London, Inggeris sebagai dukungan awal.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Seorang peneliti dan sejarawan internasional, Antony Reid mengungkapkan, konferensi ini sungguh mendapat respon yang luas dari kalangan internasional, sehingga lahirnya sebuah lembaga pusat riset dunia.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Ini berarti, Aceh akan menjadi pusat penelitian bersifat internasional yang nantinya para peneliti dunia bisa bekerjasama dengan peneliti lokal dalam melakukan sebuah riset pada berbagai bidang.<font size="2"><strong>(irn)</strong></font></p>
<p></span><strong> </strong></p>
<p> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luppatjeh.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luppatjeh.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luppatjeh.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luppatjeh.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luppatjeh.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luppatjeh.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luppatjeh.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luppatjeh.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luppatjeh.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luppatjeh.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luppatjeh.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luppatjeh.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luppatjeh.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luppatjeh.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=6&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/gubernur-minta-sejarah-aceh-ditulis-ulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3214394c5c0fcdb464010a2f84fab8b0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luppatjeh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Nanggroe Aceh Darussalam</title>
		<link>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/sejarah-nanggroe-aceh-darussalam/</link>
		<comments>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/sejarah-nanggroe-aceh-darussalam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 12:53:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luppatjeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lupp atjeh^^]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luppatjeh.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Provinsi Aceh atau yang kini dikenal sebagai Nanggröe Aceh Darussalam memiliki sejarah yang panjang dan terutama dikaitkan dengan sejarah kerajaan-kerajaan Islam yang pernah ada di kawasan tersebut.   Era Malik Al Saleh Sebelum Dinasti Usmaniyah di Turki berdiri pada tahun 699 H-1341 H atau bersamaan dengan tahun 1385 M-1923 M, ternyata nun jauh di belahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=3&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Provinsi <strong>Aceh</strong> atau yang kini dikenal sebagai <strong>Nanggröe Aceh Darussalam</strong> memiliki sejarah yang panjang dan terutama dikaitkan dengan sejarah kerajaan-kerajaan <a title="Islam" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Islam">Islam</a> yang pernah ada di kawasan tersebut.</p>
<p> </p>
<p><span class="mw-headline">Era <a class="new" title="Malik Al Saleh (belum dibuat)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=Malik_Al_Saleh&amp;action=edit&amp;redlink=1"><strong>Malik Al Saleh</strong></a></span></p>
<p>Sebelum Dinasti Usmaniyah di Turki berdiri pada tahun 699 H-1341 H atau bersamaan dengan tahun 1385 M-1923 M, ternyata nun jauh di belahan dunia sebelah timur, di dunia bagian Asia, telah muncul Kerajaan Islam Samudera-Pasai yang berada di wilayah Aceh yang didirikan oleh <a class="new" title="Mara Silu (belum dibuat)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=Mara_Silu&amp;action=edit&amp;redlink=1">Mara Silu</a> yang segera berganti nama setelah masuk Islam dengan nama Malik Al Saleh yang meninggal pada tahun 1297. Dimana penggantinya tidak jelas, namun pada tahun 1345 Samudera-Pasai diperintah oleh Malik Al Zahir, cucu daripada Malik Al Saleh.</p>
<p><a id="Lahirnya_Kerajaan_Islam_Samudera_Pasai" name="Lahirnya_Kerajaan_Islam_Samudera_Pasai"></a></p>
<h2><span class="editsection">[<a title="Lahirnya Kerajaan Islam Samudera Pasai" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=Sejarah_Aceh&amp;action=edit&amp;section=2">sunting</a>]</span> <span class="mw-headline">Lahirnya Kerajaan Islam Samudera Pasai</span></h2>
<p>Kedaulatan kerajaan Sriwijaya (684 M- 1377 M) dibawah dinasti Syailendra dengan rajanya yang pertama Balaputera Dewa, yang berpusat di Palembang Sumatera Selatan makin kuat dan daerahnya makin luas, setelah daerah dan kerajaan Melayu, Tulang Bawang, Pulau Bangka, Jambi, Genting Kra dan daerah Jawa Barat didudukinya Ketika Sriwijaya sedang mencapai puncak kekuatannya, ternyata mengundang raja Rajendrachola dari Cholamandala di India selatan tidak bisa menahan nafsu serakahnya, maka pada tahun 1023 lahirlah serangan dari raja India selatan ini kepada Sriwijaya.</p>
<p>Ternyata dinasti Syailendra ini tidak mampu menahan serangan tentara Hindu India selatan ini, raja Sriwijaya ditawannya dan tentara Chola dari India selatan ini kembali ke negerinya. Walaupun Sriwijaya bisa dilumpuhkan, tetapi tetap kerajaan Buddha ini hidup sampai pada tahun 1377. Disaat-saat Sriwijaya ini lemah, muncullah kerajaan Islam Samudera-Pasai di Aceh dengan rajanya Malik Al Saleh dan diteruskan oleh cucunya Malik Al Zahir.</p>
<p><a id="Politik_Samudera_Pasai_bertentangan_dengan_Politik_Gajah_Mada" name="Politik_Samudera_Pasai_bertentangan_dengan_Politik_Gajah_Mada"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Politik Samudera Pasai bertentangan dengan Politik Gajah Mada</span></h2>
<p>Gajah Mada yang diangkat sebagai patih di Kahuripan (1319-1321) oleh raja Jayanegara dari Majapahit. Dan pada tahun 1331, naik pangkat Gajah Mada menjadi Mahapatih Majapahit yang diangkat oleh raja Tribuana Tunggadewi.</p>
<p>Ketika pelantikan Gajah Mada menjadi Mahapatih Majapahit inilah keluar ucapannya yang disebut dengan sumpah palapa yang berisikan &#8220;dia tidak akan menikmati palapa sebelum seluruh Nusantara berada dibawah kekuasaan kerajaan Majapahit&#8221;. Ternyata dengan dasar sumpah palapanya inilah Gajah Mada merasa tidak senang ketika mendengar dan melihat bahwa Samudera Pasai di Aceh makin berkembang dan maju. Pada tahun 1350 Majapahit menggempur Samudera Pasai dan mendudukinya. 27 tahun kemudian pada tahun 1377 giliran Sriwijaya digempurnya, sehingga habislah riwayat Sriwijaya sebagai negara buddha yang berpusat di Palembang ini.</p>
<p><a id="Era_Sultan_Iskandar_Muda" name="Era_Sultan_Iskandar_Muda"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Era Sultan Iskandar Muda</span></h2>
<p><a class="mw-redirect" title="Aceh" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Aceh">Aceh</a> merupakan negeri yang amat kaya dan makmur pada masa kejayaannya. Menurut seorang penjelajah asal <a title="Perancis" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Perancis">Perancis</a> yang tiba pada masa kejayaan Aceh di zaman <a class="mw-redirect" title="Sultan Iskandar Muda" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Sultan_Iskandar_Muda">Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam</a>, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat <a title="Minangkabau" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Minangkabau">Minangkabau</a>. Kekuasaan Aceh pula meliputi hingga Perak.</p>
<p><a class="mw-redirect" title="Aceh" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Aceh">Aceh</a> juga merupakan suku bangsa pertama di pulau <a title="Sumatra" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Sumatra">Sumatra</a> yang memiliki tradisi militer, dan <em>pernah</em> menjadi suku bangsa <a class="new" title="Adi Daya (belum dibuat)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=Adi_Daya&amp;action=edit&amp;redlink=1">Adi Daya</a> untuk wilayah regional <a title="Selat Malaka" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Selat_Malaka">Selat Malaka</a> (<a title="Sumatra" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Sumatra">Sumatra</a> dan <a title="Semenanjung Melayu" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Semenanjung_Melayu">Semenanjung Melayu</a>).</p>
<p>Sri Sultan Iskandar Muda kemudian menikah dengan seorang Putri dari <a class="mw-redirect" title="Kesultanan Pahang" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Kesultanan_Pahang">Kesultanan Pahang</a>. Putri ini dikenal dengan nama <a class="new" title="Putroe Phang (belum dibuat)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=Putroe_Phang&amp;action=edit&amp;redlink=1">Putroe Phang</a>. Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan istrinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Istana) sebagai tanda cintanya. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampung halamannya yang berbukit-bukit. Oleh karena itu Sultan membangun <a class="mw-redirect" title="Gunongan" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Gunongan">Gunongan</a> untuk mengubati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.</p>
<p><span class="mw-headline"><strong>ACEH LAWAN PORTUGIS</strong></span></p>
<p>Ketika kerajaan Islam Samudera-Pasai lemah setelah mendapat pukulan Majapahit dibawah Gajah Mada-nya, maka Kerajaan Islam Malaka yang muncul dibawah Paramisora (Paramesywara) yang berganti nama setelah masuk Islam dengan panggilan Iskandar Syah. Kerajaan Islam Malaka ini maju pesat sampai pada tahun 1511 ketika Portugis dibawah pimpinan Albuquerque dengan armadanya menaklukan Malaka.</p>
<p>Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis, kembali Aceh bangkit dibawah pimpinan Sultan Ali Mukayat Syah (1514-1528). Yang diteruskan oleh Sultan Salahuddin (1528-1537). Sultan Alauddin Riayat Syahal Kahar (1537-1568). Sultan Ali Riyat Syah (1568-1573). Sultan Seri Alam (1576. Sultan Muda (1604-1607). Sultan Iskandar Muda, gelar marhum mahkota alam (1607-1636). Semua serangan yang dilancarkan pihak Portugis dapat ditangkisnya oleh SultAceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur pada masanya. Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh di zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau. Kekuasaan Aceh pula meliputi hingga Perak.</p>
<p>Seri Sultan Iskandar Muda kemudian menikah dengan seorang Puteri dari Kesultanan Pahang. Puteri ini dikenal dengan nama Putroe Phang. Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan Isterinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Istana) sebagai muzeum cintanya. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampong halamannya yang berbukit-bukit. Oleh kerananya Sultan membangun Gunongan untuk mengubati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.</p>
<p>Pada abad ke-16, Ratu Inggeris yang paling berjaya Elizabeth I sang Perawan, mengirim utusannya bernama Sir James Lancester kepada Kerajaan Aceh dan pula mengirim surat bertujuan &#8220;Kepada Saudara Hamba, Raja Aceh Darussalam.&#8221; serta seperangkat perhiasan yang tinggi nilainya. Sultan Aceh kala itu menerima maksud baik &#8220;saudarinya&#8221; di Inggeris dan mengizinkan Inggeris untuk berlabuh dan berdagang di wilayah kekuasaan Aceh. Bahkan Sultan juga mengirim hadiah-hadiah yang amat berharga termasuk sepasang gelang dari batu rubi dan surat yang ditulis diatas kertas yang halus dengan tinta emas. Sir James pun dianugerahi gelar &#8220;Orang Kaya Putih&#8221;. Hubungan yang misra antara Aceh dan Inggeris dilanjutkan pada masa Raja James I dari Inggeris dan Scotlandia. Raja James mengirim sebuah meriam sebagai hadiah untuk Sultan Aceh. Meriam tersebut hingga kini masih terawat dan dikenal dengan nama Meriam Raja James.</p>
<p>Selain Kerajaan Inggeris, Pangeran Maurits -pendiri dinasti Oranje- juga pernah mengirim surat dengan maksud meminta bantuan Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan menyambut maksud baik mereka dengan mengirimkan rombongan utusannya ke Belanda. Rombongan tersebut dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid. Rombongan inilah yang dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang singgah di Belanda. Dalam kunjungannya Tuanku Abdul Hamid sakit dan akhirnya meninggal dunia. Beliau dimakamkan secara besar-besaran di Belanda dengan dihadiri ileh para pembesar-pembesar Belanda. Namun karena orang Belanda belum pernah memakamkan orang Islam, maka beliau dimakamkan dengan cara agama nasrani di pekarangan sebuah Gereja. Kini di makam beliau terdapat sebuah prasasti yang dirasmikan oleh Mendinag Yang Mulia Pangeran Bernard suami menidiang Ratu Juliana dan Ayahanda Yang Maha Mulia Ratu Beatrix.</p>
<p>Pada masa Iskandar muda, Kerajaan Aceh mengirim utusannya untuk menghadap sultan Empayar Turki Uthmaniyyah yang berkedudukan di Konstantinompel. Kerana saat itu, sultan Turki Uthmaniyyah sedang gering maka utusan kerajaan Aceh terluntang-lantung demikian lamanya sehingga mereka harus menjual sedikit demi sedikit hadiah persembahan untuk kelangsungan hidup mereka. Lalu pada akhirnya ketika mereka diterima oleh sang Sultan, persembahan mereka hanya tinggal Lada Sicupak atau Lada sekarung. Namun sang Sultan menyambut baik hadiah itu dan mengirimkan sebuah meriam dan beberapa orang yang cakap dalam ilmu perang untuk membantu kerajaan Aceh. Meriam tersbut pula masih ada hingga kini dikenal dengan nama Meriam Lada Sicupak. Pada masa selanjutnya sultan Turki Uthmaniyyah mengirimkan sebuha bintang jasa kepada Sultan Aceh.</p>
<p>Kerajaan Aceh pula menerima kunjungan utusan Diraja Perancis. Utusan Raja Perancis tersebut semula bermaksud menghadiahkan sebuah cermin yang amat berharga bagi Sultan Aceh. Namun dalam perjalanan cermin tersebut pecah. Akhirnya mereka mempersembahkan seripah cermin tersbut sebagai hadiah bagi sang Sultan. Dalam bukunya Danis Lombard mengatakan bahwa Sultan Iskanda Muda amat menggemari benda-benda berharga. Pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan melayu yang memiliki Bale Ceureumin atau Hall of Mirror di dalam Istananya. Menurut Utusan Perancis tersebut, Istana Kesultanan Aceh luasnya tak kurang dari 2 kilometer. Istana tersbut bernama Istana Dalam Darud Dunya. Didalamnya meliputi Medan Khayali dan medan Khaerani yang mampu menampung 300 ekor pasukan gajah. Sultan Iskandar muda juga memerintahkan untuk memindahkan aliran sungai Krueng Aceh hingga mengaliri istananya. Disanalah sultan acap kali berenang sambil menjamu tetamu-tetamunya.</p>
<p>Kerajaan Aceh sepeninggal Sultan Iskandar Thani mengalami kemunduran yang terus menerus. Hal ini disebabkan kerana naiknya 4 Sultanah berturut-turut sehingga membangkitkan amarah kaum Ulama Wujudiyah. Padahal, Seri Ratu Safiatudin Seri Ta&#8217;jul Alam Syah Berdaulat Zilullahil Filalam yang merupakan Sultanah yang pertama adalah seorang wanita yang amat cakap. Beliau merupakan puteri Sultan Iskandar Muda dan Isteri Sultan Iskandar Thani. Beliau pula menguasai 6 bahasa, Spanyol, Belanda, Aceh, Melayu, Arab, dan Parsi. Saat itu di dalam Parlemen Aceh yang beranggotakan 96an orang, 1/4 diantaranya adalah wanita. Perlawanan kaum ulama Wujudiyah berlanjut hingga datang fatwa dari Mufti Besar Mekkah yang menyatakan keberatannya akan seorang Wanita yang menjadi Sultanah. Akhirnya berakhirlah masa kejayaan wanita di Aceh.</p>
<p>Pada masa perang dengan Belanda, Kesultanan aceh sempat meminta bantuan kepada perwakilan Amerika Serikta di Singapura yang disinggahi Panglima Tibang Muhammad dalam perjalanannya menuju Pelantikan Kaisar Napoleon III di Perancis. Aceh juga mengirim Habib Abdurrahman untuk meminta bantuan kepada Empayar Turki Uthmaniyyah. Namun Empayar Turki Uthmaniyyah kala itu sudah mengalami masa kemunduran. Sedangkan Amerika menolak campur tangan dalam urusan Aceh dan Belanda.</p>
<p>an-sultan Aceh ini. Selama periode akhir abad 17 sampai awal abad 19 keadaan Aceh tenang.</p>
<p><a id="Hubungan_dengan_Barat" name="Hubungan_dengan_Barat"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Hubungan dengan Barat</span></h2>
<p><a id="Inggris" name="Inggris"></a></p>
<h3> <span class="mw-headline">Inggris</span></h3>
<p>Pada <a title="Abad ke-16" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Abad_ke-16">abad ke-16</a>, Ratu Inggris, <a class="mw-redirect" title="Elizabeth I dari Inggris" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Elizabeth_I_dari_Inggris">Elizabeth I</a>, mengirimkan utusannya bernama <a class="new" title="James Lancester (belum dibuat)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=James_Lancester&amp;action=edit&amp;redlink=1">Sir James Lancester</a> kepada Kerajaan Aceh dan mengirim surat yang ditujukan: &#8220;Kepada Saudara Hamba, Raja Aceh Darussalam.&#8221; serta seperangkat perhiasan yang tinggi nilainya. Sultan Aceh kala itu menerima maksud baik &#8220;saudarinya&#8221; di Inggris dan mengizinkan Inggris untuk berlabuh dan berdagang di wilayah kekuasaan Aceh. Bahkan Sultan juga mengirim hadiah-hadiah yang berharga termasuk sepasang gelang dari batu rubi dan surat yang ditulis di atas kertas yang halus dengan tinta emas. Sir James pun dianugerahi gelar &#8220;Orang Kaya Putih&#8221;.</p>
<p>Sultan Aceh pun membalas surat dari Ratu Elizabeth I. Berikut cuplikan isi surat Sultan Aceh, yang masih disimpan oleh pemerintah kerajaan Inggris, tertanggal tahun 1585:</p>
<dl>
<dd><em>I am the mighty ruler of the Regions below the wind, who holds sway over the land of Aceh and over the land of Sumatra and over all the lands tributary to Aceh, which stretch from the sunrise to the sunset</em>. </dd>
</dl>
<dl>
<dd>(Hambalah sang penguasa perkasa Negeri-negeri di bawah angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh dan atas tanah <a title="Sumatra" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Sumatra">Sumatra</a> dan atas seluruh wilayah wilayah yang tunduk kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam). </dd>
</dl>
<p>Hubungan yang mesra antara Aceh dan Inggris dilanjutkan pada masa Raja <a title="James I dari Inggris" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/James_I_dari_Inggris">James I dari Inggris</a> dan Skotlandia. Raja James mengirim sebuah meriam sebagai hadiah untuk Sultan Aceh. Meriam tersebut hingga kini masih terawat dan dikenal dengan nama Meriam Raja James.</p>
<p><a id="Belanda" name="Belanda"></a></p>
<h3><span class="mw-headline">Belanda</span></h3>
<p>Selain Kerajaan Inggris, Pangeran <a class="new" title="Maurits dari Nassau (belum dibuat)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=Maurits_dari_Nassau&amp;action=edit&amp;redlink=1">Maurits</a> – pendiri <a class="new" title="Dinasti Oranje (belum dibuat)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=Dinasti_Oranje&amp;action=edit&amp;redlink=1">dinasti Oranje</a>– juga pernah mengirim surat dengan maksud meminta bantuan Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan menyambut maksud baik mereka dengan mengirimkan rombongan utusannya ke <a title="Belanda" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Belanda">Belanda</a>. Rombongan tersebut dipimpin oleh <a class="new" title="Tuanku Abdul Hamid (belum dibuat)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=Tuanku_Abdul_Hamid&amp;action=edit&amp;redlink=1">Tuanku Abdul Hamid</a>. Rombongan inilah yang dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang singgah di Belanda. Dalam kunjungannya Tuanku Abdul Hamid sakit dan akhirnya meninggal dunia. Beliau dimakamkan secara besar-besaran di Belanda dengan dihadiri oleh para pembesar-pembesar Belanda. Namun karena orang Belanda belum pernah memakamkan orang Islam, maka beliau dimakamkan dengan cara agama <a class="mw-redirect" title="Nasrani" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Nasrani">Nasrani</a> di pekarangan sebuah gereja. Kini di makam beliau terdapat sebuah prasasti yang diresmikan oleh Mendiang Yang Mulia <a class="mw-redirect" title="Pangeran Bernhard" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Pangeran_Bernhard">Pangeran Bernhard</a> suami mendiang <a class="mw-redirect" title="Ratu Juliana" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Ratu_Juliana">Ratu Juliana</a> dan Ayahanda Yang Mulia <a class="mw-redirect" title="Ratu Beatrix" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Ratu_Beatrix">Ratu Beatrix</a>.</p>
<p><a id="Ottoman" name="Ottoman"></a></p>
<h3><span class="mw-headline">Ottoman</span></h3>
<p>Pada masa Iskandar Muda, Kerajaan Aceh mengirim utusannya untuk menghadap Sultan <a class="mw-redirect" title="Kekaisaran Ottoman" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Kekaisaran_Ottoman">Kekaisaran Ottoman</a> yang berkedudukan di <a title="Konstantinopel" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Konstantinopel">Konstantinopel</a>. Karena saat itu Sultan Ottoman sedang gering maka utusan Kerajaan Aceh terluntang-lantung demikian lamanya sehingga mereka harus menjual sedikit demi sedikit hadiah persembahan untuk kelangsungan hidup mereka. Lalu pada akhirnya ketika mereka diterima oleh sang Sultan, persembahan mereka hanya tinggal Lada Sicupak atau Lada sekarung. Namun sang Sultan menyambut baik hadiah itu dan mengirimkan sebuah meriam dan beberapa orang yang cakap dalam ilmu perang untuk membantu kerajaan Aceh. Meriam tersebut pula masih ada hingga kini dikenal dengan nama Meriam Lada Sicupak. Pada masa selanjutnya Sultan Ottoman mengirimkan sebuah bintang jasa kepada Sultan Aceh.</p>
<p><a id="Perancis" name="Perancis"></a></p>
<h3><span class="mw-headline">Perancis</span></h3>
<p>Kerajaan Aceh juga menerima kunjungan utusan Kerajaan Perancis. Utusan Raja Perancis tersebut semula bermaksud menghadiahkan sebuah cermin yang sangat berharga bagi Sultan Aceh. Namun dalam perjalanan cermin tersebut pecah. Akhirnya mereka mempersembahkan serpihan cermin tersebut sebagai hadiah bagi sang Sultan. Dalam bukunya, Danis Lombard mengatakan bahwa Sultan Iskandar Muda amat menggemari benda-benda berharga. Pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan Melayu yang memiliki Balee Ceureumeen atau Aula Kaca di dalam Istananya. Menurut Utusan Perancis tersebut, Istana Kesultanan Aceh luasnya tak kurang dari dua kilometer. Istana tersebut bernama Istana Dalam Darud Donya (kini Meuligo Aceh, kediaman Gubernur). Di dalamnya meliputi Medan Khayali dan Medan Khaerani yang mampu menampung 300 ekor pasukan gajah. Sultan Iskandar Muda juga memerintahkan untuk memindahkan aliran <a class="new" title="Sungai Krueng (belum dibuat)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=Sungai_Krueng&amp;action=edit&amp;redlink=1">Sungai Krueng</a> Aceh hingga mengaliri istananya (sungai ini hingga sekarang masih dapat dilihat, mengalir tenang di sekitar Meuligoe). Di sanalah sultan acap kali berenang sambil menjamu tetamu-tetamunya.</p>
<p><a id="Pasca-Sultan_Iskandar_Thani" name="Pasca-Sultan_Iskandar_Thani"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Pasca-Sultan Iskandar Thani</span></h2>
<p>Kerajaan Aceh sepeninggal <a class="mw-redirect" title="Sultan Iskandar Thani" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Sultan_Iskandar_Thani">Sultan Iskandar Thani</a> mengalami kemunduran yang terus menerus. Hal ini disebabkan kerana naiknya empat Sultanah berturut-turut sehingga membangkitkan amarah kaum <a class="new" title="Ulama Wujudiyah (belum dibuat)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=Ulama_Wujudiyah&amp;action=edit&amp;redlink=1">Ulama Wujudiyah</a>. Padahal, <a class="new" title="Seri Ratu Safiatudin Seri Ta'jul Alam Syah Berdaulat Zilullahil Filalam (belum dibuat)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=Seri_Ratu_Safiatudin_Seri_Ta%27jul_Alam_Syah_Berdaulat_Zilullahil_Filalam&amp;action=edit&amp;redlink=1">Seri Ratu Safiatudin Seri Ta&#8217;jul Alam Syah Berdaulat Zilullahil Filalam</a> yang merupakan Sultanah yang pertama adalah seorang wanita yang amat cakap. Beliau merupakan puteri Sultan Iskandar Muda dan Isteri Sultan Iskandar Thani. Beliau pula menguasai 6 bahasa, Spanyol, Belanda, Aceh, Melayu, Arab, dan Parsi. Saat itu di dalam Parlemen Aceh yang beranggotakan 96 orang, 1/4 di antaranya adalah wanita. Perlawanan kaum ulama Wujudiyah berlanjut hingga datang <a title="Fatwa" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Fatwa">fatwa</a> dari Mufti Besar Mekkah yang menyatakan keberatannya akan seorang <a title="Wanita" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Wanita">wanita</a> yang menjadi Sultanah. Akhirnya berakhirlah masa kejayaan wanita di Aceh.</p>
<p><a id="Datangnya_pihak_kolonial" name="Datangnya_pihak_kolonial"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Datangnya pihak kolonial</span></h2>
<p>Kesultanan Aceh terlibat perebutan kekuasaan yang berkepanjangan sejak awal abad ke-16, pertama dengan <a title="Portugal" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Portugal">Portugal</a>, lalu sejak <a title="Abad ke-18" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Abad_ke-18">abad ke-18</a> dengan <a title="Britania Raya" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Britania_Raya">Britania Raya</a> (Inggris) dan <a title="Belanda" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Belanda">Belanda</a>. Pada akhir abad ke-18, Aceh terpaksa menyerahkan wilayahnya di <a title="Kedah" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Kedah">Kedah</a> dan <a title="Pulau Pinang" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Pulau_Pinang">Pulau Pinang</a> di <a title="Semenanjung Melayu" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Semenanjung_Melayu">Semenanjung Melayu</a> kepada Britania Raya.</p>
<p>Pada tahun <a title="1824" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1824">1824</a>, <a class="mw-redirect" title="Perjanjian Britania-Belanda 1824" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Perjanjian_Britania-Belanda_1824">Perjanjian Britania-Belanda</a> ditandatangani, di mana <a class="mw-redirect" title="Britania" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Britania">Britania</a> menyerahkan wilayahnya di <a title="Sumatra" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Sumatra">Sumatra</a> kepada <a title="Belanda" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Belanda">Belanda</a>. Pihak Britania mengklaim bahwa Aceh adalah koloni mereka, meskipun hal ini tidak benar. Pada tahun <a title="1871" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1871">1871</a>, Britania membiarkan Belanda untuk menjajah Aceh, kemungkinan untuk mencegah <a title="Perancis" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Perancis">Perancis</a> dari mendapatkan kekuasaan di kawasan tersebut.</p>
<p><a id="Perang_Aceh" name="Perang_Aceh"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Perang Aceh</span></h2>
<dl>
<dd>
<div id="catmore" class="boilerplate"><a class="image" title="!" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Berkas:Crystal_Clear_app_xmag.png"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ef/Crystal_Clear_app_xmag.png/20px-Crystal_Clear_app_xmag.png" border="0" alt="!" width="20" height="20" /></a><em>Artikel utama untuk bagian ini adalah: <a title="Perang Aceh" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Perang_Aceh">Perang Aceh</a></em></div>
</dd>
</dl>
<p>Tahun 1873 pecah perang Aceh melawan Belanda. Perang Aceh disebabkan karena:</p>
<ol>
<li>Belanda menduduki daerah Siak. Akibat dari perjanjian Siak 1858. Dimana Sultan Ismail menyerahkan daerah Deli, Langkat, Asahan dan Serdang kepada Belanda, padahal daerah-daerah itu sejak Sultan Iskandar Muda ada dibawah kekuasaan Aceh.</li>
<li>Belanda melanggar Siak, maka berakhirlah perjanjian London (1824). Dimana isi perjanjian London adalah Belanda dan Inggris membuat ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara yaitu dengan garis lintang Sinagpura. Keduanya mengakui kedaulatan Aceh.</li>
<li>Aceh menuduh Belanda tidak menepati janjinya, sehingga kapal-kapal Belanda yang lewat perairan Aceh ditenggelamkan Aceh. Perbuatan Aceh ini disetujui Inggris, karena memang Belanda bersalah.</li>
<li>Di bukanya terusan Suez oleh Ferdinand de Lessep. Menyebabkan perairan Aceh menjadi sangat penting untuk lalulintas perdagangan.</li>
<li>Dibuatnya Perjanjian Sumatera 1871 antara Inggris dan Belanda, yang isinya, Inggris memberika keleluasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan di Aceh. Belanda harus menjaga keamanan lalulintas di Selat Sumatera. Belanda mengizinkan Inggris bebas berdagang di Siak dan menyerahkan daerahnya di Guinea Barat kepada Inggris.</li>
<li>Akibat perjanjian Sumatera 1871, Aceh mengadakan hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika, Italia, Turki di Singapura. Dan mengirimkan utusan ke Turki 1871.</li>
<li>Akibat hubungan diplomatik Aceh dengan Konsul Amerika, Italia dan Turki di Singapura, Belanda menjadikan itu sebagai alasan untuk menyerang Aceh. Wakil Presiden Dewan Hindia Nieuwenhuyzen dengan 2 kapal perangnya datang ke Aceh dan meminta keterangan dari Sultan Machmud Syah tengtang apa yang sudah dibicarakan di Singapura itu, tetapi Sultan Machmud menolak untuk memberikan keterangan.</li>
</ol>
<p>Belanda menyatakan <a title="Perang" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Perang">perang</a> terhadap Aceh pada <a title="26 Maret" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/26_Maret">26 Maret</a> <a title="1873" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1873">1873</a> setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik. Sebuah ekspedisi dengan 3.000 serdadu yang dipimpin Mayor Jenderal Köhler dikirimkan pada tahun <a title="1874" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1874">1874</a>, namun dikalahkan tentara Aceh, di bawah pimpinan Panglima Polem dan Sultan Machmud Syah, yang telah memodernisasikan senjatanya. Köhler sendiri berhasil dibunuh pada tanggal 10 April 1873.</p>
<p>Ekspedisi kedua di bawah pimpinan Jenderal van Swieten berhasil merebut istana sultan. Ketika Sultan Machmud Syah wafat 26 Januari 1874, digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawot yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri. Pada <a title="13 Oktober" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/13_Oktober">13 Oktober</a> <a title="1880" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1880">1880</a>, pemerintah kolonial menyatakan bahwa perang telah berakhir. Bagaimanapun, perang dilanjutkan secara gerilya dan perang fi&#8217;sabilillah dikobarkan, di mana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1904.</p>
<p>Pada masa perang dengan Belanda, Kesultanan Aceh sempat meminta bantuan kepada perwakilan <a title="Amerika Serikat" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Amerika_Serikat">Amerika Serikat</a> di Singapura yang disinggahi Panglima Tibang Muhammad dalam perjalanannya menuju Pelantikan Kaisar <a class="mw-redirect" title="Napoleon III" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Napoleon_III">Napoleon III</a> di Perancis. Aceh juga mengirim Habib Abdurrahman untuk meminta bantuan kepada Kekaisaran Ottoman. Namun Kekaisaran Ottoman kala itu sudah mengalami masa kemunduran. Sedangkan Amerika menolak campur tangan dalam urusan Aceh dan Belanda.</p>
<p>Perang kembali berkobar pada tahun <a title="1883" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1883">1883</a>. Pasukan Belanda berusaha membebaskan para pelaut Britania yang sedang ditawan di salah satu wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh, dan menyerang kawasan tersebut. Sultan Aceh menyerahkan para tawanan dan menerima bayaran yang cukup besar sebagai gantinya. Sementara itu, Menteri Perang Belanda, Weitzel, kembali menyatakan perang terbuka melawan Aceh. Belanda kali ini meminta bantuan para pemimpin setempat, di antaranya <a title="Teuku Umar" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Teuku_Umar">Teuku Umar</a>. Teuku Umar diberikan gelar <em>panglima prang besar</em> dan pada <a title="1 Januari" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1_Januari">1 Januari</a> <a title="1894" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1894">1894</a> bahkan menerima dana bantuan Belanda untuk membangun pasukannya. Ternyata dua tahun kemudian Teuku Umar malah menyerang Belanda dengan pasukan baru tersebut. Dalam perang gerilya ini Teuku Umar bersama Panglima Polem dan Sultan terus tanpa pantang mundur. Tetapi pada tahun 1899 ketika terjadi serangan mendadak dari pihak Van Der Dussen di Meulaboh Teuku Umar gugur. Tetapi Cut Nya&#8217; Dien istri Teuku Ummar siap tampil menjadi komandan perang gerilya.</p>
<p>Pada <a title="1892" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1892">1892</a> dan <a title="1893" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1893">1893</a>, pihak Belanda menganggap bahwa mereka telah gagal merebut Aceh. Dr. <a class="mw-redirect" title="Snoeck Hurgronje" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Snoeck_Hurgronje">Snoeck Hurgronje</a>, seorang ahli <a title="Islam" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Islam">Islam</a> dari <a title="Universitas Leiden" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Universitas_Leiden">Universitas Leiden</a> yang telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh, kemudian memberikan saran kepada Belanda agar serangan mereka diarahkan kepada para <a title="Ulama" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Ulama">ulama</a>, bukan kepada sultan. Saran ini ternyata berhasil. Dr Snouck Hurgronye yang menyamar selama 2 tahun di pedalaman Aceh untuk meneliti kemasyarakatan dan ketatanegaraan Aceh. Hasil kerjanya itu dibukukan dengan judul Rakyat Aceh ( De Acehers). Dalam buku itu disebutkan rahasia bagaimana untuk menaklukkan Aceh.</p>
<p>Isi nasehat Snouck Hurgronye kepada Gubernur Militer Belanda yang bertugas di Aceh adalah:</p>
<ol>
<li>Mengesampingkan golongan Keumala (yaitu Sultan yang berkedudukan di Keumala) beserta pengikutnya.</li>
<li>Senantiasa menyerang dan menghantam kaum ulama.</li>
<li>Jangan mau berunding dengan para pimpinan gerilya.</li>
<li>Mendirikan pangkalan tetap di Aceh Raya.</li>
<li>Menunjukkan niat baik Belanda kepada rakyat Aceh, dengan cara mendirikan langgar, masjid, memperbaiki jalan-jalan irigasi dan membantu pekerjaan sosial rakyat Aceh.</li>
</ol>
<p>Pada tahun <a title="1898" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1898">1898</a>, <a class="mw-redirect" title="J.B. van Heutsz" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/J.B._van_Heutsz">J.B. van Heutsz</a> dinyatakan sebagai gubernur Aceh pada 1898-1904, kemudian Dr Snouck Hurgronye diangkat sebagai penasehatnya, dan bersama letnannya, <a title="Hendrikus Colijn" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Hendrikus_Colijn">Hendrikus Colijn</a> (kelak menjadi <a class="mw-redirect" title="Perdana Menteri Belanda" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Perdana_Menteri_Belanda">Perdana Menteri Belanda</a>), merebut sebagian besar Aceh.</p>
<p>Sultan M. Daud akhirnya meyerahkan diri kepada Belanda pada tahun <a title="1903" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1903">1903</a> setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun <a title="1904" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1904">1904</a>. Istana Kesultanan Aceh kemudian di luluhlantakkan dan diganti dengan bangunan baru yang sekarang dikenal dengan nama Pendopo Gubernur. Pada tahun tersebut, hampir seluruh Aceh telah direbut Belanda.</p>
<p>Taktik perang gerilya Aceh ditiru oleh Van Heutz, dimana dibentuk pasukan marsuse yang dipimpin oleh Christoffel dengan pasukan Colone Macannya yang telah mampu dan menguasai pegunungan-pegunungan, hutan-hutan rimba raya Aceh untuk mencari dan mengejar gerilyawan-gerilyawan Aceh.</p>
<p>Taktik berikutnya yang dilakukan Belanda adalah dengan cara penculikan anggota keluarga Gerilyawan Aceh. Misalnya Christoffel menculik permaisuri Sultan dan Tengku Putroe (1902). Van Der Maaten menawan putera Sultan Tuanku Ibrahim. Akibatnya, Sultan menyerah pada tanggal 5 Januari 1902 ke Sigli dan berdamai. Van Der Maaten dengan diam-diam menyergap Tangse kembali, Panglima Polem dapat meloloskan diri, tetapi sebagai gantinya ditangkap putera Panglima Polem, Cut Po Radeu saudara perempuannya dan beberapa keluarga terdekatnya. Akibatnya Panglima Polem meletakkan senjata dan menyerah ke Lo&#8217; Seumawe (1903). Akibat Panglima Polem menyerah, banyak penghulu-penghulu rakyat yang menyerah mengikuti jejak Panglima Polem.</p>
<p>Taktik selanjutnya, pembersihan dengan cara membunuh rakyat Aceh yang dilakukan dibawah pimpinan Van Daalen yang menggantikan Van Heutz. Seperti pembunuhan di Kuta Reh (14 Juni 1904) dimana 2922 orang dibunuhnya, yang terdiri dari 1773 laki-laki dan 1149 perempuan.</p>
<p>Taktik terakhir menangkap Cut Nya&#8217; Dien istri Teuku Umar yang masih melakukan perlawanan secara gerilya, dimana akhirnya Cut Nya&#8217; Dien dapat ditangkap dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat.<br />
<strong>Surat Perjanjian Pendek Tanda Menyerah Ciptaan Van Heutz</strong></p>
<p>Van Heutz telah menciptakan surat pendek penyerahan yang harus ditandatangani oleh para pemimpin Aceh yang telah tertangkap dan menyerah. Dimana isi dari surat pendek penyerahan diri itu berisikan, Raja (Sultan) mengakui daerahnya sebagai bagian dari daerah Hindia Belanda. Raja berjanji tidak akan mengadakan hubungan dengan kekuasaan di luar negeri. Berjanji akan mematuhi seluruh perintah-perintah yang ditetapkan Belanda. (RH Saragih, J Sirait, M Simamora, Sejarah Nasional, 1987)</p>
<p><a id="Bangkitnya_nasionalisme" name="Bangkitnya_nasionalisme"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Bangkitnya nasionalisme</span></h2>
<p>Sementara pada masa kekuasaan Belanda, bangsa Aceh mulai mengadakan kerjasama dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia dan terlibat dalam berbagai gerakan nasionalis dan politik. <a title="Sarekat Islam" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Sarekat_Islam">Sarekat Islam</a>, sebuah organisasi dagang Islam yang didirikan di <a class="mw-redirect" title="Surakarta" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Surakarta">Surakarta</a> pada tahun <a title="1912" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1912">1912</a>, tiba di Aceh pada sekitar tahun <a title="1917" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1917">1917</a>. Ini kemudian diikuti organisasi sosial <a title="Muhammadiyah" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Muhammadiyah">Muhammadiyah</a> pada tahun <a title="1923" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1923">1923</a>. Muhammadiyah membangun sebuah sekolah Islam di <a class="mw-redirect" title="Kutaraja" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Kutaraja">Kutaraja</a> (kini bernama <a class="mw-redirect" title="Banda Aceh" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Banda_Aceh">Banda Aceh</a>) pada tahun <a title="1929" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1929">1929</a>. Kemudian pada tahun <a title="1939" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1939">1939</a>, <a class="new" title="Partai Indonesia Raya (belum dibuat)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=Partai_Indonesia_Raya&amp;action=edit&amp;redlink=1">Partai Indonesia Raya</a> (Parindra) membukan cabangnya di Aceh, menjadi partai politik pertama di sana. Pada tahun yang sama, para ulama mendirikan PUSA(Persatuan Ulama Seluruh Aceh), sebuah organisasi anti-Belanda.</p>
<p><a id="Perang_Dunia_II" name="Perang_Dunia_II"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Perang Dunia II</span></h2>
<p>Aceh kian hari kian terlibat dalam gerakan nasionalis Indonesia. Saat <em>Volksraad</em> (parlemen) dibentuk, <a title="Teuku Nyak Arif" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Teuku_Nyak_Arif">Teuku Nyak Arif</a> terpilih sebagai wakil pertama dari Aceh. (Nyak Arif lalu dilantik sebagai gubernur Aceh oleh gubernur <a title="Sumatra" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Sumatra">Sumatra</a> pertama, <a class="new" title="Moehammad Hasan (belum dibuat)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=Moehammad_Hasan&amp;action=edit&amp;redlink=1">Moehammad Hasan</a>).</p>
<p>Seperti banyak penduduk Indonesia dan Asia Tenggara lainnya, rakyat Aceh menyambut kedatangan tentara <a title="Jepang" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Jepang">Jepang</a> saat mereka mendarat di Aceh pada <a title="12 Maret" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/12_Maret">12 Maret</a> <a title="1942" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1942">1942</a>, karena Jepang berjanji membebaskan mereka dari penjajahan. Namun ternyata pemerintahan Jepang tidak banyak berbeda dari Belanda. Jepang kembali merekrut para <em>uleebalang</em> untuk mengisi jabatan Gunco dan Sunco (kepala adistrik dan subdistrik). Hal ini menyebabkan kemarahan para ulama, dan memperdalam perpecahan antara para ulama dan <em>uleebalang</em>. Pemberontakan terhadap Jepang pecah di beberapa daerah, termasuk di Bayu, dekat <a class="mw-redirect" title="Lhokseumawe" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Lhokseumawe">Lhokseumawe</a>, pada tahun <a title="1942" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1942">1942</a>, yang dipimpin Teungku Abdul Jalil, dan di Pandrah, <a class="new" title="Jeunieb (belum dibuat)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/w/index.php?title=Jeunieb&amp;action=edit&amp;redlink=1">Jeunieb</a>, pada tahun <a title="1944" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/1944">1944</a>.</p>
<p><a id="Masa_Republik_Indonesia" name="Masa_Republik_Indonesia"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Masa Republik Indonesia</span></h2>
<p><strong>Aceh Tidak Termasuk Anggota Negara-Negara Bagian RIS?</strong></p>
<p>41 tahun kemudian semenjak selesainya perang Aceh, Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Ternyata perjuangan untuk bebas dari cengkraman Belanda belum selesai, sebelum Van Mook menciptakan negara-negara bonekanya yang tergabung dalam RIS (Republik Indonesia Serikat).</p>
<p>Dimana ternyata Aceh tidak termasuk negara bagian dari federal hasil ciptaan Van Mook yang meliputi seluruh Indonesia yaitu yang terdiri dari:</p>
<ol>
<li>Negara RI, yang meliputi daerah status quo berdasarkan perjanjian Renville.</li>
<li>Negara Indonesia Timur.</li>
<li>Negara Pasundan, termasuk Distrik Federal Jakarta</li>
<li>Negara Jawa Timur</li>
<li>Negara Madura</li>
<li>Negara Sumatra Timur, termasuk daerah status quo Asahan Selatan dan Labuhan Batu</li>
<li>Negara Sumatra Selatan</li>
<li>Satuan-satuan kenegaraan yang tegak sendiri, seperti Jawa Tengah, Bangka-Belitung, Riau, Daerah Istimewa Kalimantan Barat, Dayak Besar, Daerah Banjar, Kalimantan Tenggara dan Kalimantan Timur.</li>
<li>Daerah.daerah Indonesia selebihnya yang bukan daerah-daerah bagian.</li>
</ol>
<p>Yang terpilih menjadi Presiden RIS adalah Soekarno dalam sidang Dewan Pemilihan Presiden RIS pada tanggal 15-16 Desember 1949. Pada tanggal 17 Desember 1949 Presiden Soekarno dilantik menjadi Presiden RIS. Sedang untuk jabatan Perdana Menteri diangkat Mohammad Hatta. Kabinet dan Perdana Menteri RIS dilantik pada tanggal 20 Desember 1949.</p>
<p><strong>Pengakuan Belanda Kepada Kedaulatan RIS Tanpa Aceh?</strong></p>
<p>Belanda dibawah Ratu Juliana, Perdana Menteri Dr. Willem Drees, Menteri Seberang Lautnan Mr AMJA Sassen dan ketua Delegasi RIS Moh Hatta membubuhkan tandatangannya pada naskah pengakuan kedaulatan RIS oleh Belanda dalam upacara pengakuan kedaulatan RIS pada tanggal 27 Desember 1949. Pada tanggal yang sama, di Yogyakarta dilakukan penyerahan kedaulatan RI kepada RIS. Sedangkan di Jakarta pada hari yang sama, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Wakil Tinggi Mahkota AHJ Lovink dalam suatu upacara bersama-sama membubuhkan tandangannya pada naskah penyerahan kedaulatan. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986)</p>
<p><strong>Kembali Ke Negara Kesatuan Republik Indonesia</strong></p>
<p>Tanggal 8 Maret 1950 Pemerintah RIS dengan persetujuan Parlemen (DPR) dan Senat RIS mengeluarkan Undang-Undang Darurat No 11 tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS. Berdasarkan Undang-Undang Darurat itu, beberapa negara bagian menggabungkan ke RI, sehingga pada tanggal 5 April 1950 yang tinggal hanya tiga negara bagian yaitu, RI, NST (Negara Sumatera Timur), dan NIT (Negara Indonesia Timur).</p>
<p>Pada tanggal 14 Agustus 1950 Parlemen dan Senat RIS mengesahkan Rancangan Undang-Undang Dasar Sementara Negara Kesatuan Republik Indonesia hasil panitia bersama.</p>
<p>Pada rapat gabungan Parlemen dan Senat RIS pada tanggal 15 Agustus 1950, Presiden RIS Soekarno membacakan piagam terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada hari itu juga Presiden Soekarno kembali ke Yogya untuk menerima kembali jabatan Presiden RI dari Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI Mr. Asaat. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986)<br />
<strong>Maklumat Negara Islam Indonesia Aceh oleh Daud Beureueh</strong></p>
<p>3 tahun setelah RIS bubar dan kembali menjadi RI, Daud Beureueh di Aceh memaklumatkan Negara Islam Indonesia di bawah Imam SM Kartosoewirjo pada tanggal 20 September 1953.</p>
<p>Isi Maklumat NII di Aceh adalah: Dengan Lahirnja Peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam.</p>
<p>Dari itu dipermaklumkan kepada seluruh Rakjat, bangsa asing, pemeluk bermatjam2 Agama, pegawai negeri, saudagar dan sebagainja:</p>
<ol>
<li>Djangan menghalang2i gerakan Tentara Islam Indonesia, tetapi hendaklah memberi bantuan dan bekerdja sama untuk menegakkan keamanan dan kesedjahteraan Negara.</li>
<li>Pegawai2 Negeri hendaklah bekerdja terus seperti biasa, bekerdjalah dengan sungguh2 supaja roda pemerintahan terus berdjalan lantjar.</li>
<li>Para saudagar haruslah membuka toko, laksanakanlah pekerdjaan itu seperti biasa, Pemerintah Islam mendjamin keamanan tuan2.</li>
<li>Rakjat seluruhnja djangan mengadakan Sabotage, merusakkan harta vitaal, mentjulik, merampok, menjiarkan kabar bohong, inviltratie propakasi dan sebagainja jang dapat mengganggu keselamatan Negara. Siapa sadja jang melakukan kedjahatan2 tsb akan dihukum dengan hukuman Militer.</li>
<li>Kepada tuan2 bangsa Asing hendaklah tenang dan tentram, laksanakanlah kewadjiban tuan2 seperti biasa keamanan dan keselamatan tuan2 didjamin.</li>
<li>Kepada tuan2 yang beragama selain Islam djangan ragu2 dan sjak wasangka, jakinlah bahwa Pemerintah N.I.I. mendjamin keselamatan tuan2 dan agama jang tuan peluk, karena Islam memerintahkan untuk melindungi tiap2 Umat dan agamanja seperti melindungi Umat dan Islam sendiri. Achirnja kami serukan kepada seluruh lapisan masjarakat agar tenteram dan tenang serta laksanakanlah kewadjiban masing2 seperti biasa.</li>
</ol>
<p>Negara Islam Indonesia</p>
<p>Gubernur Sipil/Militer Atjeh dan Daerah sekitarnja.</p>
<p>MUHARRAM 1373</p>
<p>Atjeh Darussalam</p>
<p>September 1953<br />
<strong>Desember 1962, Daud Beureueh Menyerah Kepada Penguasa Daulah Pancasila</strong></p>
<p>Bulan Desember 1962, 7 bulan setelah Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo Imam NII tertangkap (4 Juni 1962) di atas Gunung Geber di daerah Majalaya oleh kesatuan-kesatuan Siliwangi dalam rangka Operasi Bratayudha, Daud Beureueh di Aceh menyerah kepada Penguasa Daulah Pancasila setelah dilakukan &#8220;Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh&#8221; atas prakarsa Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986)<br />
<strong>Hasan Di Tiro Mendeklarasi Negara Aceh Sumatera, 4 Desember 1976</strong></p>
<p>14 tahun kemudian setelah Daud Beureueh menyerah kepada Penguasa Daulah Pancasila, Hasan Muhammad di Tiro pada tanggal 4 Desember 1976 mendeklarasikan kemerdekaan Aceh Sumatra. Dimana bunyi deklarasi kemerdekaan Negara Aceh Sumatra menurut buku &#8220;The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro&#8221; (National Liberation Front of Acheh Sumatra,1984) yang menyangkut &#8221; Declaration of Independence of Acheh Sumatra&#8221; (hal: 15-17) adalah:</p>
<p>{{<em>&#8220;To the people of the world:</em></p>
<p>We, the people of Acheh, Sumatra, exercising our right of self-determination, and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland, do hereby declare ourselves free and independent from all political control of the foreign regime of Jakarta and the alien people of the island of Java.</p>
<p>In the name of sovereign people of Acheh, Sumatra. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Chairman, National Liberation Front of Acheh Sumatra and Head of State Acheh, Sumatra, December 4, 1976&#8243;.<em>}}</em></p>
<p><em>&#8220;Kepada rakyat di seluruh dunia:</em></p>
<p>Kami, rakyat Aceh, Sumatra melaksanakan hak menentukan nasib sendiri, dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami, dengan ini mendeklarasikan bebas dan berdiri sendiri dari semua kontrol politik pemerintah asing Jakarta dan dari orang asing Jawa.</p>
<p>Atas nama rakyat Aceh, Sumatra yang berdaulat.</p>
<p>Tengku Hasan Muhammad di Tiro.</p>
<p>Ketua National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Presiden Aceh Sumatra,</p>
<p>4 Desember 1976&#8243;</p>
<p> </p>
<p><a id="Akhir_Konflik" name="Akhir_Konflik"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Akhir Konflik</span></h2>
<dl>
<dd>
<div class="floatleft"><span><a class="image" title="Disambig.svg" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Berkas:Disambig.svg"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/72/Disambig.svg/20px-Disambig.svg.png" border="0" alt="" width="20" height="16" /></a></span></div>
<p><span class="boilerplate seealso"><em>Lihat pula: <a class="mw-redirect" title="Operasi militer Indonesia di Aceh (2003-2004)" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Operasi_militer_Indonesia_di_Aceh_(2003-2004)">Operasi militer Indonesia di Aceh (2003-2004)</a></em></span> </dd>
</dl>
<p>Pada <a title="15 Agustus" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/15_Agustus">15 Agustus</a> <a title="2005" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/2005">2005</a>, GAM dan pemerintah Indonesia akhirnya berhasil mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik berkepanjangan tersebut.</p>
<p>Pada <a title="26 Desember" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/26_Desember">26 Desember</a> <a title="2004" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/2004">2004</a>, sebuah <a class="mw-redirect" title="Gempa Bumi Samudra Hindia 2004" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Gempa_Bumi_Samudra_Hindia_2004">gempa bumi besar</a> menyebabkan <a title="Tsunami" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Tsunami">tsunami</a> yang melanda sebagian besar pesisir barat Aceh, termasuk <a class="mw-redirect" title="Banda Aceh" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Banda_Aceh">Banda Aceh</a>, dan menyebabkan kematian ratusan ribu jiwa.</p>
<p>Di samping itu telah muncul aspirasi dari beberapa wilayah NAD, khususnya di bagian barat, selatan dan pedalaman untuk memisahkan diri dari NAD dan membentuk 2 provinsi baru yang disebut Aceh Leuser Antara yang terdiri dari <a class="mw-redirect" title="Aceh Tengah" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Aceh_Tengah">Aceh Tengah</a>, <a class="mw-redirect" title="Bener Meriah" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Bener_Meriah">Bener Meriah</a>, <a class="mw-redirect" title="Gayo Lues" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Gayo_Lues">Gayo Lues</a>, <a class="mw-redirect" title="Aceh Tenggara" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Aceh_Tenggara">Aceh Tenggara</a> dan <a class="mw-redirect" title="Aceh Singkil" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Aceh_Singkil">Aceh Singkil</a>, serta Aceh Barat Selatan atau ABAS yang terdiri dari <a class="mw-redirect" title="Nagan Raya" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Nagan_Raya">Nagan Raya</a>, <a class="mw-redirect" title="Aceh Barat Daya" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Aceh_Barat_Daya">Aceh Barat Daya</a>, <a class="mw-redirect" title="Aceh Selatan" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Aceh_Selatan">Aceh Selatan</a>, <a title="Simeulue" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Simeulue">Simeulue</a>, <a class="mw-redirect" title="Aceh Barat" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Aceh_Barat">Aceh Barat</a> dan <a class="mw-redirect" title="Aceh Jaya" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/Aceh_Jaya">Aceh Jaya</a>. 4 Desember 2005 diadakan Deklarasi bersama di Gelora Bung Karno, Jakarta yang dihadiri ratusan orang dan 11 bupati yang ingin dimekarkan wilayahnya, dan dilanjutkan dengan unjukrasa yang menuntut lepasnya 11 kabupaten tadi dari Nanggroe Aceh Darussalam.</p>
<p>Pada <a title="15 Agustus" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/15_Agustus">15 Agustus</a> <a title="2005" href="http://luppatjeh.wordpress.com/wiki/2005">2005</a>, GAM dan pemerintah Indonesia akhirnya menandatangani persetujuan damai sehingga mengakhiri konflik antara kedua pihak yang telah berlangsung selama hampir 30 tahun.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luppatjeh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luppatjeh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luppatjeh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luppatjeh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luppatjeh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luppatjeh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luppatjeh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luppatjeh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luppatjeh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luppatjeh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luppatjeh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luppatjeh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luppatjeh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luppatjeh.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luppatjeh.wordpress.com&amp;blog=4907550&amp;post=3&amp;subd=luppatjeh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luppatjeh.wordpress.com/2008/09/19/sejarah-nanggroe-aceh-darussalam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3214394c5c0fcdb464010a2f84fab8b0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">luppatjeh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ef/Crystal_Clear_app_xmag.png/20px-Crystal_Clear_app_xmag.png" medium="image">
			<media:title type="html">!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/72/Disambig.svg/20px-Disambig.svg.png" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
